Rahasia Menjadi Hindu Kekinian yang Tetap Berpegang Dharma
- 06 Agt 2026 11:45 WIB
- Denpasar
Poin Utama
- Penyuluh Agama Hindu Ida Bagus Caniartha Satwika mengajak umat Hindu generasi muda untuk tetap mengikuti perkembangan zaman sambil mempertahankan nilai-nilai luhur Dharma.
- Menjadi Hindu yang kekinian bukan sekadar mengikuti tren, melainkan mampu mengaktualisasikan ajaran Hindu dalam kehidupan modern dengan tetap relevan, adaptif, dan berpegang teguh pada Dharma.
- Konsep Desa Kala Patra menjadi landasan filosofis bahwa ajaran Hindu bersifat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan tempat, waktu, dan keadaan tanpa kehilangan jati diri.
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ida Bagus Caniartha Satwika, mengajak umat Hindu, khususnya generasi muda, untuk tetap mengikuti perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai-nilai luhur Dharma. Dalam siaran Surya Puja di Pro 4 Denpasar edisi Kamis, 6 Agustus 2026, ia menegaskan bahwa menjadi Hindu yang kekinian bukan sekadar mengikuti tren, melainkan mampu mengaktualisasikan ajaran Hindu dalam kehidupan modern.
“Menjadi Hindu yang kekinian bukan berarti meninggalkan nilai-nilai luhur agama, tetapi tetap relevan, adaptif, dan berpegang teguh pada Dharma di tengah perkembangan zaman,” kata Caniartha. Menurutnya, konsep Desa Kala Patra menjadi landasan bahwa ajaran Hindu bersifat fleksibel dan mampu menyesuaikan diri dengan tempat, waktu, dan keadaan tanpa kehilangan jati diri.
Ia menjelaskan terdapat empat nilai utama yang harus tetap dijaga, yakni Dharma, Tri Kaya Parisudha, Tat Twam Asi, dan Karmaphala. Keempat ajaran tersebut menjadi pedoman agar umat Hindu mampu berpikir, berkata, dan berbuat baik, sekaligus membangun sikap toleran, bertanggung jawab, serta bijaksana dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
“Di era digital, Tri Kaya Parisudha mengingatkan kita untuk tidak menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, maupun melakukan tindakan yang merugikan orang lain, termasuk melalui media sosial,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa pemahaman terhadap hukum Karmaphala akan mendorong setiap orang lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan karena setiap tindakan memiliki konsekuensi.
Selain menghadirkan tantangan berupa derasnya arus informasi, gaya hidup instan, hingga menurunnya minat terhadap kegiatan keagamaan, era digital juga membuka peluang besar bagi pengembangan spiritual. Akses pembelajaran agama yang semakin luas, penyebaran konten Dharma melalui media sosial, serta terhubungnya komunitas Hindu lintas daerah menjadi kesempatan yang perlu dimanfaatkan secara positif.
“Media sosial tidak hanya menjadi tempat hiburan, tetapi juga dapat menjadi sarana edukasi dan dharmawacana yang menjangkau lebih banyak orang,” jelasnya. Ia mendorong generasi muda menjadi kreator konten yang menyebarkan nilai-nilai kebaikan, mulai dari edukasi hari suci, kutipan sloka, hingga pengalaman spiritual yang menginspirasi.
Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung tersebut juga mengingatkan agar generasi muda tidak hanya tampil modern dari sisi penampilan, tetapi juga memiliki kualitas batin yang kuat melalui pemahaman ajaran Hindu. Menurutnya, keseimbangan antara modernitas dan spiritualitas akan melahirkan pribadi yang berkarakter, aktif berkarya, peduli terhadap sesama, serta mampu menjadi teladan di lingkungan sekitar.
“Jangan sampai kita modern secara gaya, tetapi kosong secara makna. Jadikan ajaran Hindu sebagai kompas hidup agar mampu menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai luhur,” pungkasnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....