Tekanan Ekonomi Modern Mulai Mengikis Harmoni Sosial Warga Bali
- 06 Agt 2026 08:37 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Perubahan tata ruang akibat pesatnya investasi pariwisata selama dua dekade terakhir telah menggeser pola hidup masyarakat lokal menuju kompetisi ekonomi yang amat ketat. Menurut Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama ( Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H, tekanan ekonomi dan komersialisasi lahan turut menjadi pemicu utama meningkatnya gesekan sosial warga Bali.
Terkait fenomena pergeseran nilai tersebut, Nyoman Arya pun mengutip pesan moral yang terkandung dalam Kitab Kekawin Niti Sastra Sargah IV.17. "Dalam Niti Sastra disebutkan bahwa ketika jaman Kali tiba, tidak ada yang lebih berkuasa daripada uang atau harta, sehingga ilmuan hingga orang suci pun bisa tergiur menjadi pelayan bagi orang kaya," ungkap Nyoman Arya dalam acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar.
Nyoman Arya menambahkan sifat materialistis yang berlebihan membuat fungsi uang berubah, dari sekadar alat transaksi menjadi penguasa utama dalam jalan pikiran manusia. Hal ini memicu timbulnya berbagai tindakan kriminal, seperti pencurian benda sakral, aksi kejahatan atas dalih ekonomi, hingga tindak pidana pembunuhan.
Nyoman Arya juga menilai tingginya harga tanah akibat lonjakan industri pariwisata, kerap menimbulkan perselisihan sengit di tingkat keluarga besar maupun Desa Adat. "Tanah di Bali bukan hanya sekadar aset ekonomi semata, melainkan memiliki arti spiritual dan garis keturunan yang sangat penting, sehingga proses jual beli yang tak bijak sering memicu konflik internal," ujar Nyoman Arya.
| Baca juga: Nilai Harmoni Bali sebagai Penangkal Burnout |
Perselisihan akibat sengketa warisan atau alih fungsi lahan komersial, menunjukkan betapa rapuhnya ikatan kekeluargaan, saat dihadapkan pada godaan materi yang melimpah. Ketimpangan serta ketidakpastian ekonomi, membuat emosi warga menjadi sangat rapuh dan mudah tersulut oleh persoalan sepele.
Harmoni kebudayaan Bali yang selama ini dibanggakan tidak lagi bersifat statis, melainkan sebuah proses penyelarasan yang terus-menerus diuji oleh tantangan jaman. Masyarakat Hindu Bali, dituntut untuk mampu menavigasi perubahan arus ekonomi modern, tanpa harus mengorbankan ikatan persaudaraan dan etika sosial.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....