Siklus Yadnya Mandeg jika Tradisi Mebanten Harian di Bali Dihentikan
- 04 Jul 2026 06:16 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Wacana pengurangan praktik sesajen harian (pebedikan mebanten) yang viral di media sosial, memicu perdebatan hangat mengenai esensi ritual spiritual, di tengah dinamika modernisasi masyarakat Hindu Bali. pada Selasa 30 Juni 2026. Penyuluh Agama Hindu Kanwil Kementerian Agama ( Kemenag) Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya, S.Ag., M.Pd.H., mengungkapkan fenomena ini dikhawatirkan dapat mengaburkan pemahaman generasi muda, terhadap esensi Nitya Yadnya yang sejatinya berfungsi sebagai roda penggerak kosmis, serta penjaga keharmonisan hubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Dalam perbincangan Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Selasa, 30 Juni 2026, Nyoman Arya menjelaskan filosofi mebanten harian, sesungguhnya bukanlah aktivitas konsumtif yang bersifat pasif, melainkan sebuah mekanisme timbal balik yang sakral sesuai tuntunan sastra suci Bhagawadgita. Ketika tradisi yang menghubungkan dimensi sekala dan niskala ini sengaja diperlambat secara masif, maka seluruh sistem pertukaran energi suci di alam semesta, berpotensi mengalami ketidakseimbangan.
Nyoman Arya mengungkapkan bahwa ritual ini merupakan bagian tidak terpisahkan dari ekosistem spiritual. "Mebanten harian adalah perputaran yadnya, yang hidup untuk mengembalikan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sehingga menghentikannya sama saja dengan memutus rantai kehidupan itu sendiri," ujar Nyoman Arya.
Nyoman Arya menambahkan, masyarakat modern hendaknya memahami bahwa teologi Hindu telah menyediakan fleksibilitas yang sangat luas, melalui konsep tingkatan upakara mulai dari Utama, Madya, hingga Nista. Melalui sembilan pilihan paket adaptif tersebut, umat memiliki kebebasan penuh untuk menyesuaikan bentuk persembahan, tanpa harus kehilangan esensi ketulusan hati yang menjadi dasar utama berbakti.
Kritik terhadap volume sarana upakara yang dianggap berlebihan, menurut Nyoman Arya seharusnya dijawab dengan edukasi mengenai makna kesederhanaan ritual, bukan dengan memunculkan usulan ekstrem, untuk membatasi persembahan hanya pada hari-hari tertentu saja. Penurunan kualitas pemahaman spiritual keagamaan, ditakutkan akan mengikis identitas unik kebudayaan Bali, yang selama ini dikagumi oleh dunia internasional.
Nyoman Arya menegaskan bahwa esensi utama dari perbedaan pendapat tersebut bukanlah menghentikan tradisi, melainkan menumbuhkan kebijaksanaan umat dalam mempersembahkan sarana upakara. "Tuhan tidak pernah berutang kepada manusia dan tidak meminta kemewahan, sehingga paket terkecil sekalipun seperti nistaning nista sudah sangat bernilai tinggi, jika dilandasi oleh Sradha dan Bhakti yang tulus," tutup Nyoman Arya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....