Analisis Ragam Lontar Bali tentang Ulah Pati
- 28 Jun 2026 12:21 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Penyelenggaraan Pesta Kesenian Bali (PKB) Ke-48 Tahun 2026 memasuki minggu kedua dengan beragam kegiatan menarik. Seperti materi tentang “Ulah Pati dalam Teks Sastra Bali” yang dibawakan oleh Ida Pedanda Gde Pidada pada Widyatula (Sarasehan) Kamis, 25 Juni 2026 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali.
Pemaparan terkait ulah pati disampaikan berkaitan dengan fenomena dala kehidupan masyarakat saat ini. Ida Pedanda Pidada menjelaskan realitas empiris terkait angka ulah pati terus mengalami peningkatan dan sangat mengkhawatirkan.
Padahal sejatinya, konsep teologi Hindu Bali mengenal bahwa kehidupan menjadi seorang manusia Adalah anugerah tertinggi dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Kehidupan menjadi manusia sejatinya menjadi sarana suci untuk melebur sisa-sisa karma buruk masa lalu.
Ida Pedanda Gde Pidada dalam penyampaiannya menyatakan bahwa kematian idealnya adalah Iking Pati/Mati Rahayu. Kematian yang seharusnya terjadi secara alami pada usia tua, penuh kesadaran, dan dilepas melalui ritus suci Atiwa-Tiwa atau Ngaben.
Dalam pemaparannya, Ida Pedanda Pidada menjelaskan beberapa ragam lontar bali seperti Lontar Parasara Dharmasastra yang menyebutkan bahwa roh seseorang yang melakukan ulah pati akan terkurung di alam kegelapan neraka selama 60.000 tahun. Lainnya, Lontar Yama Purana Tattwa menguraikan klasifikasi kematian. Ngulah pati atau bunuh diri berbeda dari kematian wajar dan kematian karena kecelakaan. Naskah ini juga menjelaskan bahwa roh tersebut tidak akan diterima di alam baka dan terjatuh ke neraka.
Sumber sastra bali secara spesifik menjelaskan tentang bagaimana konsekuensi perspektif agama, adat, dan budaya bali. Ida Pedanda Gde Pidada membawakan sebuah kajian berjudul “Multidisipliner Perspektif Sastra Bali (Lontar), Sosiorelegi-Antropologis, Dulu, Sekarang, dan Mendatang” menawarkan sejumlah rekomendasi seperti penataan ulang pemikiran adat tentang fenomena ulah pati. Selain itu, dimasa mendatang diperlukan pula pendekatan yang berkeadilan sosial serta berorientasi pada pemulihan kesehatan mental masyarakat.
Dalam Sarasehan yang berlangsung selama dua jam tersebut terdapat materi seperti Topeng Sidakarya dalam Tradisi Bali dibawakan oleh Ida Rsi Agung Wayabya Suprabu Sogata Karang, serta analisis gamelan gambang sebagai artefak musikal yang hidup oleh I Nyoman Mariyana.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....