Sesari atau Upah? Sering Menjadi Perdebatan di tengah Umat Hindu Bali

  • 03 Jun 2026 12:33 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar edisi Selasa, 2 Juni 2026 mengangkat tema “Bhakti, Sesari, dan Upah” dengan menghadirkan narasumber dari Penyuluh Agama Hindu Kementrian Agama Kota Denpasar, Dr. Nyoman Arya, Kadek Aryani, dan Bayu Dharmayana. Dalam perbincangan tersebut, para narasumber membahas makna sesari sebagai wujud bhakti yang tulus dalam pelaksanaan upacara keagamaan Hindu.

Arya menjelaskan bahwa perkembangan zaman dan teknologi telah membawa perubahan cara pandang masyarakat terhadap sesari. Menurutnya, nilai kesakralan sesari perlu terus dijaga agar tidak bergeser menjadi sekadar bentuk pembayaran atau imbalan jasa.

“Sesari itu sebagai inti dari persembahan kita, jangan sampai bergeser dari nilai kesakralannya,” ujar Arya. Ia menegaskan bahwa sesari merupakan simbol ketulusan dan rasa syukur umat kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa melalui sarana upacara yang dipersembahkan.

Dalam diskusi tersebut, narasumber juga menyoroti fenomena yang berkembang di masyarakat terkait pemaknaan sesari. Beberapa praktik yang terjadi dinilai berpotensi mengaburkan makna sesari ketika lebih menonjolkan aspek materi dibandingkan nilai bhakti yang mendasarinya.

“Kalau sesari diberikan setelah seluruh prosesi selesai, maknanya bisa bergeser menjadi upah,” kata Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut. Ia menambahkan bahwa secara etika keagamaan, sesari seharusnya dipersembahkan sebagai bagian dari rasa tulus dan kepercayaan umat sebelum prosesi pelayanan spiritual berlangsung.

Bayu Dharmayana menilai fenomena pengambilan sesari sebelum maupun sesudah persembahyangan perlu dipahami secara bijaksana oleh seluruh umat. Menurutnya, baik pihak yang memberikan maupun menerima sesari harus mengedepankan keikhlasan agar nilai spiritualnya tetap terjaga.

“Mari kita wujudkan sesari ini dengan keikhlasan, umat mempersembahkan dengan tulus dan yang menerima juga mengelolanya dengan ikhlas,” ungkap Bayu. Ia menekankan bahwa sesari bukan semata-mata uang persembahan, melainkan simbol pengabdian dan penghormatan kepada nilai-nilai suci agama.

Pada akhir siaran, para narasumber mengajak umat Hindu untuk mengembalikan pemahaman sesari sebagai wujud bhakti yang dilandasi ketulusan hati. “Mengaturkan sesari bukan soal jumlah atau nominal, tetapi soal rasa bhakti yang kita persembahkan,” pungkas Dr. Nyoman Arya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....