Kearifan Lokal Bali Mulai Luntur di Era Digital

  • 10 Mei 2026 07:53 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID - Kearifan lokal Bali dinilai mulai luntur di tengah perkembangan era digital dan media sosial. Filosofi “de ngaden awak bisa” yang mengajarkan sikap rendah hati perlahan mulai ditinggalkan generasi muda karena budaya kompetisi dan keinginan tampil paling unggul di media sosial.

Dalam acara Rahajeng Bali pada Jumat, 8 Mei 2026, Komisioner KPAD Bali, Ir. I Made Ariasa, M.Pd., menyebut fenomena kekerasan remaja, perundungan, hingga sikap arogan menjadi tanda melemahnya pendidikan karakter anak.

Ia menilai saat ini banyak anak lebih diarahkan mengejar nilai akademik dibanding membangun karakter dan tata krama. Padahal, leluhur Bali telah mewariskan filosofi “ilmu padi” yang mengajarkan semakin berisi seseorang maka semakin rendah hati.

Pande Made Keyla Mahesa Garwita, mengatakan media sosial membuat banyak remaja merasa harus selalu terlihat hebat demi menjaga ekspektasi lingkungan. Kondisi itu membuat sebagian anak muda sulit menerima pendapat orang lain dan ingin dianggap paling mampu.

Sementara itu, Made Agus Dwipayana, menilai pendidikan karakter perlu kembali diperkuat melalui keluarga dan sekolah. Menurutnya, kecerdasan tanpa sikap hormat dan tata krama tidak cukup membentuk pribadi yang baik di masyarakat.

Selain itu, perubahan pola asuh dan penggunaan bahasa asing yang semakin dominan juga dikhawatirkan membuat generasi muda Bali perlahan kehilangan identitas budaya. Karena itu, nilai-nilai kearifan lokal dinilai perlu kembali ditanamkan agar tetap relevan di tengah perkembangan zaman.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....