Tradisi dan Modernitas: Relevansi Upacara di Era Sekarang
- 05 Mei 2026 16:29 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Di tengah arus modernisasi yang serba cepat, tradisi keagamaan kerap dipertanyakan relevansinya, terutama oleh generasi muda. Namun bagi masyarakat Bali, upacara dan hari suci justru tetap menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan hidup, meski zaman terus berubah.
Isu ini mengemuka dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 28 April 2026 yang menghadirkan Penyuluh Agama Hindu, I Gusti Putu Suana, S.Ag.,M.Si. Menurut Putu Suana kehidupan spiritual masyarakat Bali tidak hanya hadir dalam hari raya besar seperti Galungan atau Nyepi, tetapi juga melalui rahinan, ritual rutin yang berlangsung secara berkala. Tradisi ini menunjukkan bahwa spiritualitas tidak bergantung pada kemeriahan, melainkan pada konsistensi dalam menjalankan pemujaan dan persembahan.
Di sisi lain, perkembangan teknologi dan gaya hidup modern membawa tantangan tersendiri. Upacara yang dahulu dilakukan secara sederhana kini kerap mengalami perubahan bentuk, baik dari segi pelaksanaan maupun pemaknaannya. Tidak sedikit yang melihatnya hanya sebagai tradisi turun-temurun tanpa memahami filosofi di baliknya.
Padahal, dalam ajaran yang berkembang, setiap upacara memiliki makna mendalam. Misalnya pada perayaan seperti Tumpek Landep, yang tidak hanya dimaknai sebagai ritual semata, tetapi juga sebagai bentuk penghormatan terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa tradisi sebenarnya mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman, tanpa kehilangan esensinya.
Konsep waktu dalam budaya Bali, seperti siklus pawukon yang berulang setiap 210 hari, juga menjadi pengingat bahwa kehidupan memiliki ritme yang harus dijaga. Di tengah kesibukan modern, keberadaan hari-hari suci ini justru menjadi ruang refleksi, tempat manusia berhenti sejenak untuk menata kembali hubungan dengan Tuhan, alam, dan sesama.
Tantangan terbesar saat ini bukanlah pada perubahan zaman, melainkan pada bagaimana menjaga pemahaman terhadap makna di balik tradisi. Tanpa pemahaman tersebut, upacara berisiko menjadi sekadar rutinitas tanpa ruh.
Karena itu, relevansi upacara di era sekarang terletak pada kemampuannya untuk tetap hidup di tengah modernitas, bukan dengan menolak perubahan, tetapi dengan menyesuaikan diri tanpa kehilangan nilai-nilai utama. Di sanalah tradisi dan modernitas tidak lagi saling bertentangan, melainkan berjalan berdampingan, menjaga identitas sekaligus menjawab kebutuhan zaman.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....