Tren Pernikahan Kekinian yang Bijak dengan Tetap Menjaga Nilai Luhur Tradisi Bali
- 28 Apr 2026 09:18 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Penyluh Agama Hindu dari Kementrian Agama Kota Denpasar, Doktor I Nyoman Arya, dalam acara Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar edisi Sabtu, 25 April 2026 mengupas fenomena gaya pernikahan kekinian di kalangan umat Hindu, khususnya di Bali, yang kini menunjukkan perpaduan antara nilai sakral tradisi dengan sentuhan modern yang lebih personal dan fleksibel. Konsep pernikahan tidak lagi selalu identik dengan kemewahan besar, melainkan mulai bergeser ke arah yang lebih sederhana, intim, dan tetap berlandaskan nilai agama.
Menurut Arya, seiring perkembangan zaman, masyarakat mulai memilih konsep pernikahan yang lebih efisien dari segi biaya dan pelaksanaan, tanpa mengurangi esensi kesakralan upacara. Pernikahan dengan konsep minimalis, ramah lingkungan, serta penggunaan dekorasi alami menjadi tren yang semakin diminati.
“Pernikahan di era kekinian lebih menekankan pada kesakralan yang dikemas secara sederhana dan penuh makna,” ujarnya. Ia menegaskan bahwa inti dari pernikahan tetap berada pada pelaksanaan upacara sesuai ajaran agama Hindu.
| Baca juga: Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral? |
Selain itu, pelaksanaan pernikahan kini juga banyak dilakukan melalui lembaga keagamaan atau penyedia jasa, yang menawarkan proses lebih praktis dan terstruktur. Namun demikian, masyarakat diingatkan agar tetap memperhatikan unsur Tri Upa Saksi sebagai syarat sahnya sebuah pernikahan secara adat dan agama.
“Pernikahan bukan sekadar pesta, tetapi penyatuan dua jiwa untuk meningkatkan spiritualitas,” ungkap Penyuluh Agama Hindu Kota Denpasar tersebut. Ia juga menambahkan bahwa pemahaman terhadap makna pernikahan harus terus diedukasi agar tidak tergerus oleh tren modernisasi.
Dalam ajaran Hindu, pernikahan tidak hanya dimaknai sebagai penyatuan fisik, tetapi juga mencakup penyatuan pikiran, jiwa, dan keluarga. Keempat aspek ini menjadi fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis dan berkelanjutan.
“Banyak pasangan hanya berhasil pada pernikahan tubuh, tetapi gagal dalam penyatuan pikiran dan perasaan,” jelasnya. Kondisi tersebut dinilai menjadi salah satu penyebab meningkatnya konflik hingga perceraian dalam rumah tangga.
Lebih lanjut dijelaskan, pernikahan jiwa menuntut pasangan untuk saling melengkapi peran dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai suami maupun istri. Sementara itu, pernikahan keluarga menekankan pentingnya menyatukan dua keluarga besar dalam harmoni.
“Ketika menikah, bukan hanya dua individu yang bersatu, tetapi juga dua keluarga besar yang harus disatukan,” tegasnya. Oleh karena itu, kesiapan mental dan pemahaman terhadap budaya keluarga menjadi hal yang sangat penting sebelum melangsungkan pernikahan.
Melalui fenomena ini, masyarakat diharapkan mampu menyikapi tren pernikahan kekinian secara bijak dengan tetap menjaga nilai-nilai luhur tradisi. Dengan demikian, pernikahan tidak hanya menjadi momen seremonial, tetapi juga menjadi awal perjalanan hidup yang penuh makna dan tanggung jawab.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....