Ini Proses Awal hingga Menjadi Batik Jumputan
- 14 Apr 2026 12:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Kain batik jumputan telah banyak dikenal di Indonesia, salah satunya di daerah pulau Bali. Salah satunya di desa Bengkel, kecamatan Banjar, kabupaten Buleleng. Kekhasan dari produk kerajinan kain batik jumputan ini menampilkan motif yang sangat menarik dan unik.
Motif yang ditampilkan bukan hanya berasal dari hasil pola ikatannya saja, melainkan juga terdapat permainan motif yang terdapat dari permainan warna yang ditampilkan dalam satu bidang kain batik jumputan.
Proses pembuatan batik jumputan ini menggunakan teknik ikat sesuai motif yang diinginkan oleh pengerajin. Perwarnaan batik jumputan ini menggunakan pewarna remasol. Prosesnya masih dikerjakan secara manual dan mengandalkan alat yang mudah ditemui di rumah tangga. Pengerjaan batik jumputan ini mengandakan keterampilan agar hasil yang didapat nantinya sesuai dengan motif batik jumputan yang diinginkan.
Tahapan atau proses pembuatan dan pewarnaan kerajinan batik jumputan diantaranya sebagai berikut. Proses pertama adalah menyiapkan alat dan bahan. Bahan yang disiapkan adalah kain sutra, warna remasol dan sabun cair. Kemudian alat yang harus disiapkan, yaitu ember, kuas, gunting, pensil, panci dan tali rafia.
Proses kedua adalah pembuatan pola motif. Pembuatan pola motif batik jumputan di kain sutra disesuaikan dengan apa yang diinginkan atau pesanan yang akan dibuat. Proses ini dilakukan untuk mempermudah proses pengikatan motif pada kain agar sesuai dengan motif yang diinginkan.
Proses ketiga yaitu pengikatan. Pengikatan pola dan motif batik jumputan pada kain sutra menggunakan karet atau tali raffia. Pengikatan pola atau motif yang sudah dibuat pada kain ini bertujuan untuk mengetahui warna apa saja yang akan digunakan. Melalui pengikatan pola ini akan terbentuk motif pada saat pewarnaan.
Proses keempat merupakan perendaman. Proses perendaman ini dilakukan dengan menggunakan water glass. Proses ini dilakukan pada kain sutra yang akan diwarnai. Dengan water glass yang sudah dilarutkan ke air selama kurang lebih 1-2 menit. Setelah itu kain diperas untuk menghilangkan sisa water glass yang berlebihan di kain sutra.
Proses kelima adalah pelarutan warna remasol. Proses ini dilakukan pada saat kain sudah diikat sesuai motif yang diinginkan dan sudah melalui tahapan perendaman menggunakan water glass. Kain yang sudah melewati tahapan tersebut bisa dilakukan pencelupan kedalam larutan warna remasol.
Proses keenam adalah penjemuran. Proses penjemuran dilakukan dibawah sinar matahari terik yang dilakukan setelah proses pencelupan ke dalam larutan warna remasol.
Proses ketujuh yaitu pencelupan air cuka. Proses ini dilakukan untuk menguatkan dan mengawetkan warna pada batik jumputan agar warna kain tidak luntur. Caranya dengan melakukan pencelupan ke larutan air cuka. Kemudian didiamkan selama kurang lebih 5 sampai 10 menitan. Lalu dibilas menggunakan air hingga air bilasan bening atau sudah tidak ada warna luntur lagi.
Proses kedelapan adalah pelepasan ikatan. Proses ini dialkukan setelah proses pencelupan ke larutan cuka dan batik jumputan dikeringkan. Proses pelepasan ikatan jumputan sudah bisa dilanjutkan. Dengan pelepasan ikatan ini bisa dikatakan sudah memasuki proses akhir jadinya produk kain batik jumputan. Pada proses ini akan terlihat motif yang timbul dari ikatan dan juga proses dari pewarnaan.
Proses kesembilan yaitu pencucian dengan sabun cair. Proses pencucian menggunakan sabun cair dilakukan sebagai pencucian terakhir untuk hasil pewarnaan batik jumputan. Ini dilakukan untuk menghilangkan bahan kimia seperti sisa larutan warna, water glass, dan sisa pencelupan kain ke larutan cuka.
Proses kesepuluh atau terakhir adalah penjemuran hasil pewarnaan batik jumputan. Proses penjemuran ini adalah proses terakhir dari berbagai tahapan yang dilakukan. Setelah proses penjemuran ini selesai hasil batik jumputan sudah siap dipasarkan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....