Makna “Ojo Wera” dalam Perspektif Spiritual Hindu

  • 13 Apr 2026 12:52 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Siaran Obrolan Galang Kangin bersama Ajik Tibah dan Beli Kejoer yang disiarkan di Pro 4 RRI Denpasar, Senin, 13 April 2026, mengangkat topik tentang makna “Ojo Wera” dalam kehidupan beragama. Pembahasan ini menyoroti pentingnya memahami batasan dalam menyampaikan pengetahuan, khususnya yang bersifat sakral.

Dalam obrolan tersebut dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara hal yang sakral dan profan dalam kehidupan umat Hindu. Sesuatu yang disucikan tidak hanya pada bentuknya, tetapi juga melalui proses dan pemahaman yang benar.

“Ojo Wera” diartikan sebagai larangan untuk tidak sembarangan menyebarluaskan pengetahuan tertentu. Hal ini bukan untuk membatasi, melainkan untuk mencegah penyalahgunaan oleh pihak yang belum siap memahami maknanya.

Tibah dan Kejoer juga menyampaikan bahwa bahkan ajaran suci seperti Weda dapat disalahartikan jika dipahami oleh orang yang belum memiliki dasar pengetahuan yang cukup. Oleh karena itu, kehati-hatian dalam mempelajari dan menyampaikan ajaran agama menjadi sangat penting.

Konsep ini juga berkaitan dengan tingkat kedewasaan spiritual seseorang. Tidak semua pengetahuan dapat diberikan secara bebas tanpa mempertimbangkan kesiapan mental dan tanggung jawab individu.

Dalam kehidupan sehari-hari, prinsip “Ojo Wera” juga diterapkan pada hal-hal praktis seperti larangan memberikan sesuatu yang berbahaya kepada yang belum mampu bertanggung jawab. Contohnya adalah tidak memberikan rokok kepada anak-anak meskipun ada keuntungan secara materi.

Tibah menekankan bahwa larangan dalam “Ojo Wera” bukanlah bentuk pengekangan. Sebaliknya, hal ini merupakan upaya menjaga agar ilmu dan nilai-nilai suci tetap digunakan dengan benar.

"Pemahaman terhadap ajaran agama perlu didasari proses penyucian diri, baik secara lahir maupun batin," ungkap Tibah . Ia mengatakan, proses ini penting agar seseorang mampu menerima dan mengamalkan pengetahuan dengan bijaksana.

Kejoer menambahkan, bahwa pembelajaran spiritual juga membutuhkan bimbingan dari guru atau pihak yang lebih memahami. "Hal ini untuk memastikan bahwa ilmu yang diterima tidak disalahartikan dan tetap sesuai dengan ajaran yang benar," tegasnya.

Melalui siaran ini, masyarakat diingatkan untuk bijak dalam menerima dan menyebarkan informasi. Pemahaman yang tepat serta tanggung jawab menjadi kunci utama dalam menjaga kesucian ajaran agama Hindu.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....