Mengapa Bulan Suro Dianggap Sakral?
- 19 Jun 2026 11:59 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Bagi masyarakat Jawa, Bulan Suro bukan sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender Jawa. Bulan yang bertepatan dengan bulan Muharram dalam kalender Hijriah ini dianggap sebagai waktu yang sakral dan penuh makna spiritual.
Bulan Suro sering diwarnai berbagai tradisi, ritual, hingga mitos yang masih dipercaya oleh sebagian masyarakat hingga saat ini. Tanggal 1 Suro menjadi momen yang dimaknai sebagai waktu untuk introspeksi, mendekatkan diri kepada Tuhan, dan melakukan laku spiritual. Berikut mitos bulan suro yang beredar di masyarakat.
1. Larangan Menikah atau Menggelar Hajatan
Mengadakan acara besar seperti pernikahan atau syukuran dianggap dapat mengundang malapetaka bagi pengantin atau penyelenggara. Bulan suro dipandang sebagai waktu untuk introspeksi diri dan memperbanyak doa, bukan untuk perayaan besar.
2. Pantangan Pindah atau Membangun Rumah
Bulan suro dianggap bukan waktu yang tepat untuk pindah rumah. Hal ini dipercaya akan membawa kesialan dan rezeki yang seret.
3. Larangan Bepergian Jauh
Sebagian masyarakat percaya bahwa melakukan perjalanan jauh ke luar kota bisa membawa risiko atau hal yang tidak diinginkan. Kepercayaan ini telah berkembang secara turun-temurun dalam budaya Jawa.
4. Meningkatnya Aktivitas Makhluk Halus
Menurut kajian Folklore UNY, banyak cerita yang berkembang mengenai meningkatnya aktivitas makhlus halus dan kejadian suprantural. Sering dikaitkan bahwa seseorang yang memiliki weton wangi dilarang untuk keluar rumah agat tidak diganggu makhluk halus.
5. Larangan Memotong Rambut dan Kuku
Memotong rambut dan kuku pada saat bulan suro dipercaya dapat mengurangi keberuntungan. Kepercayaan ini lebih banyak berasal dari cerita rakyat dan tradisi lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Dibalik mitos yang beredar, bulan suro memiliki nilai filosofis yang mendalam. Dalam budaya Jawa, bulan suro dipandang sebagai waktu untuk refleksi diri, evaluasi hidup, dan memperkuat hubungan dengan tuhan.
Pada akhirnya, berbagai mitos yang berkembang di bulan suro tidak dapat dipisahkan dari sejarah dan budaya masyarakat Jawa. Terlepas dari benar atau tidaknya kepercayaan tersebut, bulan suro tetap menjadi simbol refleksi, kehati-hatian, dan penghormatan terhadap tradisi.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....