Kecerdasan Kognitif dan Afektif Kunci Utama Berempati

  • 12 Apr 2026 16:34 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Penyuluh Agama Hindu Kantor Wilayah Kementerian Agama Kabupaten Badung , Ni Luh Ernawati,S.H., M.I.Kom.,memaparkan pentingnya perpaduan antara kemampuan kognitif dan afektif dalam membangun empati. Ketika berbincang dalam acara Obrolan Komunitas di Studio Pro 4 RRI Denpasar,Selasa, 7 April 2026 ia menjelaskan bahwa empati bukan sekadar perasaan kasihan, melainkan fondasi kepedulian untuk memahami perspektif orang lain, tanpa harus mengalami penderitaan tersebut secara langsung.

Mengutip pemikiran Daniel Goleman dan Chaplin, Ernawati menekankan bahwa kemampuan membaca emosi dari sudut pandang orang lain, merupakan syarat mutlak dalam menjalin komunikasi interpersonal yang sehat. Tanpa adanya kerangka psikologis yang tepat, manusia cenderung terjebak dalam ego pribadi, sehingga gagal memberikan respons yang penuh kasih sayang, saat berhadapan dengan masalah sosial di sekitarnya.

Ernawati menjelaskan bahwa individu yang memiliki empati tinggi akan sangat peka terhadap perasaan orang lain di setiap situasi. "Berdasarkan teori Goleman, empati adalah kemampuan membaca emosi dari sudut pandang orang lain dan menjadi sangat peka terhadap apa yang mereka rasakan saat itu,"ujar Ernawati.

Ernawati mengungkapkan ketidakhadiran empati dalam diri seseorang, dapat memicu perilaku agresif bahkan hingga ke tingkat sosiopat, yang menyakiti sesama tanpa adanya rasa penyesalan sedikit pun. Hal ini terjadi karena hilangnya kontrol terhadap indra, yang jika dibiarkan akan membuat kehidupan sosial runtuh, akibat tingginya konflik dan hilangnya rasa solidaritas di tengah masyarakat.

Oleh karena itu, setiap individu dituntut untuk mampu menempatkan diri dalam posisi orang lain, agar tidak mudah menghakimi atau bersikap kaku dalam berinteraksi. Penguasaan terhadap indra menjadi sangat krusial, agar pikiran tetap jernih dan tidak tertutup oleh kabut kegelapan, yang sering kali muncul akibat dorongan ego yang tidak terkendali.

Ernawati menegaskan bahwa empati yang terlatih akan melahirkan sikap memaafkan dan keterbukaan, dalam menerima perbedaan pandangan di lingkungan bermasyarakat. "Kepedulian sosial akan tumbuh subur, jika kita mampu menempatkan diri dalam kerangka psikologis orang lain, tanpa harus larut berlebihan dalam emosi mereka” tutup Ernawati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....