Setiap Gerakan dalam Kramaning Sembah, Mengandung Nilai Spiritual

  • 06 Apr 2026 09:16 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Program siaran Surya Puja di Pro 4 RRI Denpasar edisi Minggu, 5 April 2026, mengangkat topik “Memaknai Kramaning Sembah” yang disampaikan oleh Penyuluh Agama Hindu Kementrian Agama Hindu Kota Denpasar, Dr. I Nyoman Arya. Dalam pemaparannya, dijelaskan bahwa kramaning sembah merupakan urutan atau tata cara dalam melaksanakan persembahyangan umat Hindu.

Kramaning sembah berasal dari kata “krama” yang berarti urutan atau metode, dan “sembah” yang berarti memuja Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Dengan demikian, kramaning sembah memiliki makna sebagai rangkaian tata cara persembahyangan yang utuh dan menyeluruh.

“Dalam praktiknya, istilah ini sering disalahartikan dan tertukar dengan istilah lain seperti panca sembah,” jelas Arya. Ia menambahkanadahal, panca sembah hanya mencakup lima tahapan, sedangkan kramaning sembah memiliki cakupan yang lebih luas sesuai tingkat upacara.

Kesalahan pemahaman juga kerap terjadi dalam penggunaan bahasa oleh pengantar upacara. Penggunaan istilah yang tidak tepat dapat menimbulkan makna yang keliru bahkan berpotensi menyesatkan umat.

Arya menegaskan pentingnya penggunaan bahasa Bali yang baik dan benar dalam memandu persembahyangan. Hal ini bertujuan agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan tafsir yang salah di kalangan umat.

“Secara umum, urutan persembahyangan meliputi sembah puyung, sembah kepada Siwa Aditya, sembah kepada manifestasi dewa sesuai tempat pemujaan, sembah samodaya, dan penutup,” ungkap Penyuluh Agama Hindu Kota Denbpasar tersebut. Ia menambahkan, setiap tahapan memiliki makna filosofis yang perlu dipahami secara mendalam.

Sembah puyung dimaknai sebagai pemujaan dalam kondisi hening dan suci, tanpa sarana lahiriah. Tahapan ini bertujuan untuk menenangkan pikiran dan mendekatkan diri pada hakikat Atman.

Pada tahap selanjutnya, pemujaan ditujukan kepada Siwa Aditya sebagai sumber cahaya kehidupan. Hal ini menegaskan pentingnya memahami konsep ketuhanan secara benar dalam setiap pelaksanaan persembahyangan.

Sikap tangan dalam sembah juga memiliki makna simbolis yang mendalam. Posisi tangan mencerminkan keseimbangan antara unsur purusa dan pradana, serta melambangkan Tri Kona yaitu penciptaan, pemeliharaan, dan peleburan.

Selain itu, umat diingatkan untuk tidak sekadar mengikuti gerakan ritual tanpa pemahaman. Setiap gerakan dalam kramaning sembah mengandung nilai spiritual yang harus dihayati.

⁠⁠⁠⁠⁠⁠⁠

Di akhir pemaparannya, Dr. I Nyoman Arya mengajak umat untuk lebih memahami dan memaknai setiap tahapan persembahyangan. Hal ini penting agar praktik keagamaan tidak hanya menjadi rutinitas, tetapi juga memberikan makna spiritual yang mendalam.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....