Ekoteologi: ketika Agama dan Lingkungan Saling Terhubung

  • 03 Apr 2026 11:28 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Isu lingkungan kini menjadi perhatian global, namun bagi masyarakat Bali, konsep menjaga alam sejatinya telah lama tertanam dalam ajaran agama Hindu. Melalui pendekatan ekoteologi, nilai-nilai spiritual dan pelestarian lingkungan dipadukan menjadi satu kesatuan yang tidak terpisahkan.

Penyuluh Agama Hindu dari Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Gusti Putu Suana, S.Ag. ,M.Si menjelaskan bahwa ekoteologi merupakan konsep yang menghubungkan aspek teologi (keagamaan) dengan ekologi (lingkungan). Dalam ajaran Hindu, manusia tidak hanya hidup berdampingan dengan alam, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat dan menjaga keseimbangannya.

Menurutnya, berbagai rangkaian hari suci seperti Kajeng Kliwon Pemelastali hingga Saraswati mengandung nilai-nilai ekoteologi yang kuat. Ritual yang dilakukan bukan sekadar simbol, melainkan bentuk penghormatan terhadap alam sebagai sumber kehidupan. Sesajen yang dihaturkan, misalnya, berasal dari unsur-unsur alam yang kemudian dikembalikan sebagai bentuk rasa syukur.

“Manusia hanya dititipkan untuk merawat alam, bukan merusaknya,” ujar Gusti Putu Suana dalam dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 31 Maret 2026. Ia menekankan bahwa kesadaran ini penting ditanamkan, terutama di tengah meningkatnya kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia.

Lebih jauh, konsep ekoteologi juga mengajarkan keseimbangan antara skala (nyata) dan niskala (spiritual). Artinya, menjaga lingkungan tidak hanya dilakukan secara fisik, seperti menjaga kebersihan atau mengurangi sampah, tetapi juga melalui sikap batin yang selaras dan penuh kesadaran.

Di tengah perkembangan zaman, tantangan dalam menerapkan nilai-nilai ini semakin besar. Gaya hidup modern yang cenderung konsumtif sering kali berbanding terbalik dengan prinsip pelestarian alam. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih kontekstual agar pesan-pesan keagamaan tetap relevan dan mudah dipahami, khususnya oleh generasi muda.

Melalui media seperti radio, televisi, hingga platform digital, penyuluh agama kini aktif menyampaikan pesan ekoteologi kepada masyarakat. Harapannya, nilai-nilai tersebut tidak hanya dipahami secara teoritis, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan memahami ekoteologi, masyarakat diajak untuk melihat bahwa menjaga alam bukan sekadar kewajiban sosial, melainkan bagian dari praktik spiritual. Di Bali, harmoni antara manusia, alam, dan Tuhan bukan hanya konsep, tetapi juga cara hidup yang terus dijaga di tengah perubahan zaman.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....