Nyepi sebagai “Istirahat Alam” di Bali

  • 12 Mar 2026 20:50 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar — Hari Raya Nyepi tidak hanya dimaknai sebagai perayaan keagamaan umat Hindu di Bali, tetapi juga sebagai momen penting bagi alam untuk beristirahat. Melalui pelaksanaan Catur Brata Penyepian, seluruh aktivitas masyarakat dihentikan sementara guna menciptakan suasana hening yang memberi ruang bagi alam untuk memulihkan diri.

Kepala Bidang Pemajuan Hukum Adat, Dinas PMA Provinsi Bali, I.B. Rai Dwija Juliarta pada acara Rahajeng Bali pada Kamis, 12 Maret 2026 menjelaskan bahwa Nyepi memiliki makna yang lebih luas dari sekadar ritual keagamaan. Menurutnya, Nyepi merupakan bagian dari siklus alam yang harus dihormati oleh seluruh masyarakat yang tinggal di Bali, tanpa memandang latar belakang agama maupun budaya.

Rai Dwija menyebutkan dalam konsep kosmologi Bali terdapat siklus alam yang menggambarkan perjalanan dari kondisi ramai menuju hening, lalu kembali pada energi baru. Catur Brata Penyepian yang dijalankan saat Nyepi menjadi momentum untuk memberikan kesempatan bagi alam agar “bernapas” setelah aktivitas manusia yang terus berlangsung sepanjang tahun. “Nyepi bukan hanya menghentikan aktivitas manusia, tetapi juga memberi kesempatan kepada alam untuk menyeimbangkan kembali energinya,” tegasnya.

Pelaksanaan Nyepi juga didukung oleh peran desa adat di seluruh Bali. Lebih dari 1.500 desa adat memiliki aturan atau awig-awig yang mengatur kehidupan masyarakat, termasuk tata cara pelaksanaan Nyepi agar berjalan tertib dan penuh penghormatan terhadap nilai-nilai tradisi.

Dalam pelaksanaannya, masyarakat menjalankan empat pantangan utama yang dikenal sebagai Catur Brata Penyepian, yakni tidak menyalakan api atau cahaya, tidak bekerja, tidak bepergian, serta tidak menikmati hiburan. Suasana hening yang tercipta selama 24 jam tersebut diyakini mampu menghadirkan ketenangan bagi manusia sekaligus memberikan ruang bagi alam untuk pulih.

Selain menjadi bagian dari spiritualitas, Nyepi juga mengajarkan masyarakat untuk kembali merefleksikan hubungan manusia dengan alam. Keheningan yang tercipta menjadi simbol penting bahwa keseimbangan antara manusia, alam, dan kehidupan spiritual harus selalu dijaga. Melalui perayaan Nyepi, masyarakat Bali tidak hanya merawat tradisi leluhur, tetapi juga menjaga harmoni alam sebagai bagian dari kehidupan bersama.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....