Dharma Siddhyartha: Cara Mengatur Tujuan, Kemampuan, dan Waktu dalam Beribadah
- 05 Mar 2026 21:55 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Di tengah dinamika kehidupan modern yang serba cepat, ajaran Hindu mengingatkan umatnya untuk tetap bijak dalam menjalankan kewajiban spiritual. Salah satu pedoman yang kembali digaungkan dalam acara Rahajeng Bali pada Selasa, 3 Maret 2026 bersama Penyuluh Agama Hindu Kabupaten Badung, Ni Nengah Rusmiati, S.Ag., M.Pd.H adalah konsep Dharma Siddhyartha, sebuah tuntunan agar ibadah dilakukan dengan kesadaran, bukan sekadar rutinitas.
Nengah Rusmiati menjelaskan bahwa setiap perayaan hari suci, termasuk Purnama, seharusnya dilandasi pemahaman yang utuh. Dharma Siddharta mengajarkan empat hal penting: Iksha (tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), dan Kala (waktu). Keempatnya menjadi dasar agar umat tidak terjebak pada formalitas atau gengsi sosial dalam beragama.
“Ibadah itu harus punya tujuan yang jelas. Apa yang kita mohon? Apa yang kita syukuri? Itu yang disebut Iksha,” ujarnya. Tujuan bersembahyang, lanjutnya, bukan semata-mata mempersembahkan sarana upacara, tetapi sebagai ungkapan terima kasih dan permohonan agar hidup tetap berada di jalan dharma.
Aspek Sakti mengingatkan umat untuk menyesuaikan pelaksanaan upacara dengan kemampuan masing-masing. Persembahan tidak harus mewah atau besar. Patram puspam phalam toyam yang berarti daun, bunga, buah, dan air menjadi simbol bahwa ketulusan jauh lebih utama daripada kemegahan. “Jangan memaksakan diri demi gengsi. Yang penting tulus dan sesuai kemampuan,” tegas Nengah Rusmiati.
Sementara itu, Desa dan kala menuntun umat agar menyesuaikan ibadah dengan kondisi tempat dan waktu. Umat Hindu yang berada di perantauan, misalnya, tetap dapat bersembahyang meski sarana terbatas. Demikian pula waktu pelaksanaan yang ideal, seperti pagi hari untuk Dewa Yadnya, menjadi pedoman agar ibadah berjalan selaras dengan ajaran sastra.
Konsep ini dinilai relevan bagi generasi muda yang hidup di era modern. Di tengah tuntutan pekerjaan, pendidikan, dan aktivitas digital, Dharma Siddhyarta memberi ruang fleksibilitas tanpa mengurangi esensi spiritualitas. Ibadah tidak diukur dari besar kecilnya upacara, tetapi dari kesadaran dan konsistensi menjalankannya.
Lebih jauh, ajaran ini juga mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam kehidupan. Materi yang dimiliki tidak hanya dialokasikan untuk upacara, tetapi juga untuk pendidikan dan kesejahteraan keluarga. Spiritualitas berjalan berdampingan dengan tanggung jawab sosial.
Melalui pemahaman Dharma Siddhyartha, umat diajak untuk kembali pada inti ajaran agama, yaitu menjalankan dharma dengan bijak, tulus, dan penuh kesadaran. Di tengah perubahan zaman, nilai ini menjadi jangkar agar praktik keagamaan tetap relevan, membumi, dan membawa ketenangan bagi setiap insan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....