“Gedong Kirtya” , Warisan Budaya dan Sejarah di Singaraja.
- 02 Mar 2026 11:39 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID. Denpasar- Buleleng bukan hanya terkenal dengan obyek wisatanya, namun juga kental dengan tradisi dan budaya yang dimiliki. Melalui sebuah museum berbagai cerita dan sejarah tersimpan dalam kenangan, salah satunya Museum Gedong Kirtya yang menyimpan warisan leluhur secara turun temurun di Bali.Naskah – naskah dalam bentuk lontar atau Pustaka Lontar serta buku buku tua tersimpan dengan baik di Gedong Kirtya.
Gedung Kirtya terdapat ribuan koleksi lontar tersimpan rapi dalam kotak yang disebut keropak dengan panjang sekitar 60 centimeter dan tersusun rapi berdasarkan kelompok atau klasifikasi. Barisan paling atas lontar sasak, isinya tentang budaya sasak, kemudian Matrastawa ( mantap, puja/weda), Niticastra ( etik ), Wariga ( astronomi dan astrologi ),Tutur (petuah ), Usadha ( pengobatan tradisional ), Geguritan ( kidung ). Babad Pamancangah ( sejarah ), Satua (cerita ).
Dilansir dari laman disbud@bulelengkab.go.id. Berbicara Gedong Kirtya tak lepas dari jasa dua orang Belanda yakni F.A Liefrinck dan Dr Van Der Tuuk yang telah mempelopori penelitian Kebudayaan,Adat istiadat dan Bahasa Bali. Ketertarikan mempelajari Budaya Bali dan Lombok ini akhirnya ditindak lanjuti oleh L.J.J Caron, Dr.R.Ng Purbacaraka,Dr W.R Stuterheim, Dr.R Goris, Dr Th Pegeand, Dr.C.Hooykaos dengan membuat pertemuan di Kintamani dan dari hasil pertemuan ini lahirlah sebuah Yayasan (stiching ) yang menitik beratkan kegiatan untuk penyimpanan lontar dan kegiatan ini dibantu para pinandita dan raja – raja se Bali.
Yayasan ini memiliki gedung sebagai tempat untuk melakukan aktifitas kegiatan mereka didirikan pada tanggal 2 Juni 1928. Gedung ini dinamakan Sticting Liefrinck Van der Tuuk. Tetapi atas saran Raja Buleleng I Gusti Putu Jelantik, nama Gedung ini ditambah dengan bahasa Sansekerta- Bali Kirtya sehingga menjadi Kirtya Liefrinck Van der Tuuk dan mulai dibuka untuk umum pada tanggal 14 September 1928 atau 1850 Saka sesuai yang diperlihatkan monogram atau Candra Sengkala yang dipahat pada pintu masuk ( Paduraksa ).Paduraksa tersebut bergambar manusia yang menarik gajah dengan busur panah ditangannya.
Kemudian Roelot Goris dan pustakawan Kirtya I Wayan Badra,berhasil mengembangkan koleksi Gedong Kirtya. Jumlah koleksi dari tahun ketahun terus meningkat. Pada Mei 1931 Kirtya diperkirakan telah memiliki setidaknya 635 lontar yang berbeda,pada tahun 1935 jumlahnya naik menjadi 1257 judul lontar,dan pada awal tahun 1939 naik lagi menjadi 1600 cakep lontar. Per Desember 2015 diperkirakan terdapat 1757 judul lontar dan 4857 salinan lontar di Gedong Kirtya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....