Desa Pegayaman Akulturasi Budaya, Harmoni dan Toleransi

  • 02 Mar 2026 11:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar. Desa Pegayaman, Kabupaten Buleleng terletak di lereng Bukit diantara jajaran perbukitan yang memisahkan Bali bagian Utara dengan wilayah selatan, jaraknya sekitar 9 kilometer dari Kota Singaraja , tentu tidak sulit untuk mencapai lokasi. Desa Pegayaman berada dibalik bukit yang dikelilingi kebun cengkeh dan kopi.

Jalan raya menuju desa ini seluruh permukaan sudah diaspal mulus. Desa Pegayaman terbagi menjadi empat banjar atau dusun adat, yakni Banjar Dauh Rurung, Banjar Dangin Rurung, Banjar Kubu dan Banjar Mertasari. Desa ini terkenal dengan Alkuturasi budaya Islam Hindu yang kental serta menerapkan sistem Subak dalam pertanian.

Dilansir dari laman disbud.bulelengkab.go.id. Ada satu keunikan di Desa Pegayaman yaitu umat muslim membubuhi nama urutan keluarga sesuai tradisi Bali seperti Wayan , Putu, atau Gede untuk anak pertama, Made ,Kadek atau Negah untuk anak ke dua, Nyoman, Komang untuk anak ke tiga dinama depan mereka yang berbau Islam. Akan tetapi ada perbedaan yang mencolok pada hiasan rumah umat Islam Pegayaman tidak menggunakan ukir – ukiran yang merupakan hal wajib bagi warga Hindu di Bali. Rumah penduduk muslim tidak dilengkapi bangunan sanggah/merajan yang menjadi tempat persembahyangan keluarga di salah satu sudut rumah warga Hindu di Bali.

Umat Islam di Pegayaman tidak merasa eksklusif,hal ini dapat diamati pada saat perayaan Hari besar Agama Hindu seperti menjelang Nyepi,umat Islam ramai – ramai membantu dan mengarak “ Ogoh – Ogoh”. Pada saat Nyepi pun, mereka menghentikan aktifitas sehari – hari dan berdiam diri didalam rumah untuk menghormati umat Hindu yang melaksanakan ritual tapa brata.

Sebaliknya,saat Lebaran dan Hari Kurban, umat Islam yang melakukan tradisi “ngejot” atau memberikan makanan kepada tetangga sekitar rumah. Prilaku seperti ini mungkin jarang terjadi di daerah lain,namun di Desa Pegayaman telah menjad rutinitas.

Salah satu kesenian Desa Pegayaman yang disebut burba. Lagu dan tarian ini memang sangat Islami,tetapi kental dengan nuansa Bali,sebab para pelakunya memang umat Islam yang bermukim di Desa Pegayaman. Bagi orang Bali penduduk desa ini sering disebut” Nyame Selam” atau saudara Islam. Bahkan bagi penduduk Pegayaman tidak ada perbedaan kecuali dalam syariat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....