Tumpek dalam Hindu Selaras dengan Kehidupan

  • 20 Feb 2026 10:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID., Denpasar - Pulau Bali dikenal oleh dunia sebagai pulau yang unik, banyak orang yang datang ke Bali langsung jatuh cinta dengan Bali karena dirasakan ada nuansa yang berbeda ada kedamaian dan ada keharmonisan di pemeluknya yang mayoritas ber agama Hindu. Ini ada karena di Bali masih mempunyai banyak tradisi Bali adalah pulau yang kaya akan tradisi Hindu, dimana setiap ritual dan perayaan menyimpan makna filosofi yang dalam ujar Nyoman Nilawati.

Ketika menjadi narasumber dalam Siaran Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar, Kamis, 19 Februari 2026, Anggota Baga I MDA Provinsi Bali ini mengatakan,salah satu contoh filosofi tersebut adalah Tri Hita Karana. Tri Hita Karana merupakan filosofi hidup masyarakat Hindu di Bali yang menekankan tiga penyebab utama kebahagiaan dan keharmonisan, yang bersumber pada keseimbangan hubungan antara manusia dengan Tuhan, hubungan antar sesama manusia, dan manusia dengan alam lingkungan.

Hubungan-hubungan ini diwujudkan melalui tradisi yang unik yang tetap lestari hingga kini. Tradisi-tradisi unik ini diantara adalah rerahinanTumpek. Rerahinan tumpek ini dirayakan setiap saniscara atau hari sabtu Kliwon. Tumpek ini bukan hanya sekadar hari suci. Namun tumpek ini dijadikan momentum untuk merenung, menghargai alam dan meneguhkan nilai-nilai kehidupan, tambah Nilawati.

Nilawati menuturkan, dalam siklus Kalender Bali yang datangnya setiap 6 bulan atau 210 hari sekali ada 6 hari Tumpek yang dirayakan. Tumpek-tumpek tersebut, diantaranya Tumpek Landep, Tumpek Wariga atau tumpek Uduh/Pengatag/Pengarah, Tumpek Kuningan, Tumpek Krulut, Tumpek Uye atau Kandang dan Tumpek Wayang. Masing-masing hari tumpek ini memiliki fokus dan pesan yang unik serta masih relevan bagi kehidupan modern. Tumpek ini juga mengajarkan kita untuk hidup lebih selaras dengan diri, selaras dengan Masyarakat dan selaras alam lingkungan.

“Tumpek-tumpek ini memang selaras dan relevan dengan kehidupan kita saat ini. Contohnya saja Tumpek Klurut atau hari kasih sayang. Hari kasih sayang ala Bali ini dapat dilakukan dalam bentuk tindakan sehari-hari. Tindakan-tindakan tersebut, seperti berkata-kata lembut kepada orang lain, menolong teman yang kesulitan, menjenguk yang sakit, menghormati perbedaan, tidak melakukan bullying dan berbagi dengan yang membutuhkan serta menjaga kerukunan kerukunan antar sesama”, tutup Nilawati.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....