Makna Tumpek Klurut, Hari Kasih Sayang Hindu Bali

  • 19 Feb 2026 13:36 WIB
  •  Denpasar

RRI.Co.ID, Denpasar- Hari Kasih Sayang sedunia dirayakan setiap tanggal 14 Februari. Dilansir dari https://id.wikipedia.org, Hari Kasih Sayang ini berasal dari hari pesta Kristen yang bertujuan untuk menghormati martir Katolik bernama Santo Valentinus.

Perayaan ini melalui tradisi rakyat sehingga menjadi perayaan Kasih sayang yang signifikan dalam budaya, agama dan komersial di banyak bagian dunia. Namun tidak hanya Masyarakat dunia yang memiliki hari kasih sayang, Masyarakat Hindu Bali juga memilikinya.

Hari kasih sayang Masyarakat Hindu Bali dikenal dengan nama Tumpek Klurut. Anggota Baga I MDA Provinsi Bali, Nyoman Nilawati menyampaikan Tumpek Krulut sering disebut sebagai Hari Kasih Sayang menurut ajaran Hindu.

Kata Krulut atau Rulut atau Lulut artinya menyatu membaur atau sambung menyambung tiada putus. Pada hari suci ini, umat Hindu memuliakan Dewa Iswara sebagai manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana pada unsur keindahan, seni, suara, dan getaran rasa.

Tumpek Krulut menjadi hari untuk menyucikan rasa, menata hati, serta menghaluskan budi pekerti, lanjut Nilawati dalam Siaran Obrolan Komunitas Rahajeng Bali di Pro 4 RRI Denpasar, Kamis, 19 Februari 2026.

“Makna Tumpek Klurut sebenarnya jauh lebih dalam daripada sekadar ungkapan rasa cinta secara lahiriah. Tumpek Krulut merupakan momentum spiritual untuk menyelaraskan rasa (lulut) dengan dharma. Sehingga kasih sayang yang tumbuh tidak berhenti pada perasaan, tetapi terwujud dalam sikap dan perilaku hidup sehari-hari”, tuturnya.

Kasih sayang yang dimaknai dalam Tumpek Krulut bukanlah kasih yang posesif atau bersyarat. Kasih sayang dalam tumpek klurut adalah kasih yang tulus (prema), kasih yang melahirkan empati, penghormatan dan welas asih kepada sesama makhluk. Dari rasa inilah lahir sikap santun dalam bertutur, lembut dalam bersikap, serta bijaksana dalam bertindak.

Tumpek Krulut ini juga mengingatkan umat agar menjaga harmoni hubungan, baik dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan alam semesta dan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Harmoni dengan diri sendiri dapat dilakukan dengan mengendalikan emosi dan menumbuhkan rasa Syukur.

Selanjutnya harmoni dengan sesama manusia dapat dilakukan melalui saling menghargai, mengasihi, dan menguatkan. Kemudian harmoni dengan alam semesta dapat dilakukan dengan merawat dan tidak merusaknya.

"Harmoni dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa dapat dilakukan melalui bhakti dan ketulusan hati," pungkasnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....