Peran Penting Perempuan dalam Adat Batur

  • 11 Agt 2024 17:00 WIB
  •  Denpasar

KBRN, Denpasar : Perempuan baik di masa lalu maupun di masa kini, baik itu dalam lingkungan keluarga dan masyarakat memilki peran yang tidak dapat dipandang sebelah mata. Begitupun peran perempuan di Desa Batur, Kecamatan Kintamani Kabupaten Bangli. Perempuan di Desa Batur memiliki peran yang sangat penting terutama dalam adat. Peran-peran penting ini sudah diwarisi dari zaman dahulu kala.


Jero Penyarikan Duuran Batur sekaligus Sekretaris Peradah DPP Provinsi Bali, I Ketut Eriadi Ariana mengatakan berbicara adat di Bali tidak bisa terlepas dari teks. Teks bisa tertulis dan tidak tertulis dalam bentuk tradisi. Dalam pandangannya, sebenarnya tidak ada pembagian yang memojokkan peran perempuan di Bali.


Diera Bali kuno, raja Bali beberapa kali adalah perempuan. Pada konteks spiritual, misalnya Ida Betari Danu yang berstana di Batur adalah perempuan. Kesetaraan itu secara prinsip adalah bentuk esensial dari kebudayaan Bali. "Jadi tidak ada yang misalnya hanya meninggikan laki-laki atau hanya meninggikan perempuan. Hanya saja pada suatu masa, mungkin perannya yang tidak tampak," ujarnya.


Dikatakan, di Desa Batur sendiri sebagai refleksi, ada peran-peran adat yang dinamakan Karaman 45. Kamaram 45 merupakan 45 jabatan yang mengelola desa dan anggotanya banyak perempuan. Di sisi lain, Posisi Jero Balian di Batur telah ditentukan dan harus perempuan.


" Beberapa posisi strategis pemangku bahkan pemangku yang memiliki otoritas untuk kematian orang kalau ada krama yang meninggal yang nguningang (melapor) ke Ida Betara harus pemangku perempuan. Artinya bisa direfleksikan peran penting dalam siklus hidup sampai mati itu perempuan yang memegang," katanya.


Batur juga memiliki semacam perlindungan terhadap perempuan. Ada istilah bangku maguug dalam Raja Purana Batur. Bangku maguug adalah perempuan yang menikah tiga kali atau lebih. Jika dicermati dengan sungguh-sungguh, maknanya adalah perlindungan terhadap perempuan agar perempuan tidak dilecehkan seolah-olah menjadi rangda tiga. Imajinasi dalam konteks klasik, rangda tiga berarti dia seperti calonarang dan berkesan mistis.


Rekomendasi Berita