Emosi Naik Turun? Ini Penyebab dan Cara Mengelolanya

  • 04 Okt 2026 12:01 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Perubahan emosi yang terjadi dalam waktu singkat merupakan hal yang dapat dialami siapa saja, terutama pada masa remaja. Kondisi tersebut tidak selalu berarti seseorang terlalu sensitif atau berlebihan. Perubahan hormon, perkembangan otak, tekanan lingkungan, hingga kebiasaan sehari-hari dapat memengaruhi kondisi emosional.

Dikutip dari BBC Bitesize, emosi merupakan bagian normal dari cara kerja otak dan tubuh. Kemampuan untuk mengenali, memahami, serta merespons emosi juga merupakan keterampilan yang dapat dipelajari dan dilatih.

Pada masa remaja, tubuh dan otak mengalami berbagai perubahan. Perubahan hormon selama pubertas dapat memengaruhi respons emosional. Selain itu, bagian otak yang berperan dalam perencanaan, pengendalian impuls, pemecahan masalah, dan regulasi emosi masih berada dalam tahap perkembangan.

Tekanan dari lingkungan juga dapat membuat perubahan emosi terasa semakin kuat. Ujian, tuntutan sekolah, perubahan hubungan pertemanan, pengalaman baru, serta meningkatnya kesadaran terhadap diri sendiri dapat menjadi sumber tekanan.

Kondisi fisik turut berpengaruh terhadap kemampuan seseorang dalam menghadapi tekanan. Kurang tidur, kurang bergerak, pola makan yang tidak teratur, kurang minum, dan stres berlebihan dapat membuat tubuh lebih sulit mengelola situasi yang menekan.

Salah satu langkah untuk memahami perubahan emosi adalah mengenali tanda-tanda yang muncul pada tubuh. Seseorang dapat menggunakan skala sederhana, misalnya hijau ketika kondisi emosional masih stabil, kuning ketika mulai merasa tertekan, dan merah ketika emosi sudah sangat intens.

Respons fisik seperti bahu yang tegang, telapak tangan berkeringat, tubuh gelisah, atau pikiran yang sulit tenang juga dapat menjadi tanda bahwa seseorang sedang mengalami emosi tertentu.

Mencatat situasi yang memicu perubahan emosi juga dapat membantu menemukan pola. Dengan mengetahui kapan emosi muncul dan apa yang terjadi sebelumnya, seseorang dapat lebih cepat menyadari ketika mulai merasa kewalahan.

Selain mengenali tanda fisik, memberikan nama yang lebih spesifik pada emosi juga dapat membantu. Perasaan yang disebut sekadar sebagai "bad mood" bisa saja sebenarnya merupakan rasa kecewa, cemas, iri, frustrasi, sedih, atau khawatir.

Kemampuan membedakan emosi secara lebih rinci dikenal sebagai emotional granulation. Dengan memiliki kosakata emosi yang lebih beragam, seseorang dapat lebih mudah memahami apa yang dirasakan dan menentukan respons yang sesuai.

Menjaga kondisi fisik juga menjadi bagian penting dalam mengelola emosi. Tidur yang cukup, makan secara teratur, memenuhi kebutuhan cairan, melakukan aktivitas fisik, serta menyediakan waktu untuk kegiatan yang menyenangkan dapat membantu menjaga energi tubuh dan pikiran.

Saat emosi berubah-ubah, seseorang juga tidak perlu langsung menghakimi diri sendiri. Emosi merupakan bagian dari pengalaman manusia dan tidak selalu harus dilawan atau disembunyikan.

Memahami pemicu, mengenali sinyal tubuh, dan memberi nama pada emosi dapat menjadi langkah awal untuk menentukan respons yang lebih tepat.

Jika perasaan terasa terlalu berat untuk dihadapi sendiri, berbicara dengan orang yang dipercaya atau mencari bantuan profesional dapat menjadi pilihan. Meminta bantuan bukan berarti menunjukkan kelemahan, melainkan bagian dari upaya memahami dan menjaga diri.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....