Cinta Tidak Cukup: Mengapa Pernikahan Butuh Rasionalitas?
- 11 Feb 2026 20:11 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Bulan Februari sering identik dengan perayaan cinta. Namun di balik romantisme dan ungkapan manis, ada satu pertanyaan serius yang jarang dibahas, yaitu apakah cinta saja cukup untuk membawa pasangan menuju pernikahan yang berkualitas?
Pertanyaan itu mengemuka dalam dialog interaktif Rahajeng Bali pada Selasa, 10 Februari 2026, bersama Penyuluh Agama Hindu Kemenag Badung, Ni Putu Sukma Apti Utami, S.Pd. Dalam acara tersebut, ia menegaskan bahwa pernikahan tidak bisa hanya berlandaskan rasa cinta.
“Cinta itu tidak seenak rasa cokelat, tidak juga seenak martabak telur,” ujarnya sambil tersenyum. “Cinta adalah kesediaan menerima kelebihan dan kekurangan pasangan. Tapi cinta juga harus rasional,” tegas Putu Sukma.
Menurutnya, cinta yang rasional berarti cinta yang sadar akan tanggung jawab. Dalam ajaran agama Hindu, hal ini berkaitan dengan dharma. Kewajiban menjalankan peran sebagai suami dan istri dengan harus dilaksanakan dengan penuh kesadaran.
Pernyataan itu menjadi relevan ketika melihat bahwa perceraian pada tahun 2025 melonjak, terdapat seribu lebih kasus perceraian di wilayah Kota Denpasar dan Kabupaten Badung. Dari pengalaman mendampingi masyarakat, Sukma menyebut tiga faktor utama yang kerap memicu perceraian, yaitu persoalan ekonomi, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), dan perselingkuhan. “Banyak pasangan menikah karena cinta, tapi belum siap secara mental dan finansial,” jelas Putu Sukma kembali.
Ia menekankan pentingnya kesepakatan sejak awal sebelum membangun rumah tangga. Siapa yang bekerja, bagaimana pembagian peran, hingga cara mengelola keuangan, perlu dibicarakan secara terbuka. Tanpa itu, konflik kecil bisa berkembang menjadi masalah besar yang berujung pada perceraian.
“Pernikahan itu teamwork,” katanya. “Tidak boleh ada rasa lebih berjasa atau merasa paling berkorban. Harus saling menerima dan saling menguatkan.” Selain kesiapan ekonomi, kesiapan psikologis juga dinilai krusial. Kemampuan mengelola emosi dan menyelesaikan konflik tanpa kekerasan menjadi kunci agar rumah tangga tetap harmonis.
Di tengah kekhawatiran sebagian generasi muda yang mulai takut menikah karena tingginya angka perceraian, pesan ini menjadi pengingat bahwa pernikahan bukan sekadar tentang pesta atau momen romantis. Lebih dari itu, pernikahan adalah komitmen jangka panjang yang membutuhkan kedewasaan berpikir.
Cinta memang fondasi, namun tanpa rasionalitas, fondasi itu bisa goyah. Membangun pernikahan yang berkualitas berarti mempersiapkan hati sekaligus pikiran untuk berjalan bersama, bukan hanya hari ini, tetapi sepanjang perjalanan hidup.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....