Generasi Alpha, Mengapa Cara Melindungi Mereka Harus Berbeda?
- 10 Agt 2026 14:48 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Tantangan mendidik dan melindungi anak-anak masa kini jauh berbeda dibandingkan masa-masa sebelumnya. Tumbuh di tengah derasnya arus teknologi, generasi terkini menghadapi lingkungan sosial dan digital yang jauh lebih terbuka. Kondisi ini membuat pola pendekatan perlindungan anak tidak bisa lagi menggunakan cara-cara lama, melainkan harus beradaptasi dengan realitas dunia mereka.
Pentingnya penyesuaian strategi perlindungan anak era digital ini menjadi bahasan acara Rahajeng Bali, pada Jumat, 7 Agustus 2026, yang menghadirkan Ketua KPAD Provinsi Bali, Ni Luh Gede Yastini, S.H bersama dua mahasiswa calon guru Bimbingan Konseling (BK) dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Ni Made Restu Widya dan Ni Made Lisa Dea Paramita.
Perkembangan teknologi membawa dampak ganda bagi tumbuh kembang anak. Di satu sisi, akses informasi makin mudah; namun di sisi lain, potensi timbulnya bahaya baru justru makin mengintai di balik layar ponsel pintar mereka.
Ketua KPAD Provinsi Bali, Ni Luh Gede Yastini, mengungkapkan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, bentuk kekerasan yang dialami anak-anak telah mengalami pergeseran dari perundungan fisik secara langsung menuju perundungan siber (cyberbullying).
"Kondisi saat ini membuat permasalahan anak-anak makin kompleks dengan ruang digital dan pergaulan yang sangat terbuka. Bahkan di tahun 2026 ini, kasus bullying yang masuk melingkupi perundungan via ponsel atau cyberbullying ITE yang mengarah ke ranah seksual," jelasnya.:
Jika dahulu Bimbingan Konseling (BK) baru ditemukan pada jenjang SMP atau SMA, kini tuntutan zaman menghendaki pelatihan mental dan etika berinteraksi diajarkan sejak usia anak-anak di tingkat PAUD dan Sekolah Dasar (SD). Hal ini bertujuan untuk melatih anak mengenali tutur kata yang santun dan memahami dampak bahasa kasar sejak dini mencegah terjadinya perilaku perundungan saat mereka berinteraksi di media sosial kelak. Serta mendorong penguatan pemahaman bimbingan konseling bagi guru-guru sekolah dasar agar mampu melakukan deteksi dini terhadap masalah emosional siswa.
Generasi muda saat ini kerap kali merasa canggung atau ragu untuk menceritakan permasalahan emosionalnya kepada orang tua maupun guru karena takut dihakimi. Oleh karena itu, calon Guru BK dari Universitas PGRI Mahadewa Indonesia, Restu Widya dan Lisa Dea Paramita, menekankan pentingnya membangun ruang aman di mana anak-anak dijamin kerahasiaan (privacy) dan dipahami dari sudut pandang mereka.
"Anak-anak zaman sekarang kalau ada masalah sering kali malu atau takut cerita ke orang tua, lalu larinya ke teman sebaya. Di sinilah BK hadir membuka ruang, menunjukkan bahwa kami bisa menjaga rahasia 100 persen dan tidak semenyeramkan yang mereka bayangkan," jelas Lisa Dea Paramita.
Anak-anak era digital membutuhkan pendamping yang tidak hanya sekadar memberikan instruksi atau sanksi, melainkan sosok yang mau menggali alasan di balik perilaku mereka. Menyamaratakan penanganan semua anak dengan satu aturan kaku sudah tidak relevan lagi.
Melalui sinergi antara pemahaman ruang digital, keterbukaan komunikasi di rumah, serta kehadiran guru BK sebagai sahabat di sekolah, cara melindungi generasi baru dapat berjalan lebih humanis, peka, dan efektif.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....