Dibalik Senyum, Ada Tekanan yang Dipikul Generasi Sandwich

  • 06 Agt 2026 08:18 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar Di balik senyuman ceria dan penampilan tegar anak-anak muda usia produktif hari ini, tak jarang tersimpan tumpukan beban psikologis dan finansial yang cukup berat. Mereka adalah bagian dari generasi sandwich, kelompok masyarakat yang harus menopang hidup generasi di atasnya (orang tua) sekaligus memenuhi kebutuhan generasi di bawahnya (anak-anak), serta memperjuangkan masa depan pribadi.

Dalam acara Rahajeng Bali, pada Selasa, 4 Agustus 2026, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Aptiutami menjelaskan tekanan yang dipikul generasi sandwich tidak hanya sebatas tagihan bulanan atau tuntutan ekonomi. Terkadang, beban terbesar justru datang dalam bentuk tekanan mental dan pengasuhan lintas generasi.

Sukma Aptiutami menjelasakan bagaimana generasi muda hari ini terjepit di tengah pergeseran pola didik. Banyak dari mereka tumbuh dengan pengasuhan masa lalu yang cenderung disiplin keras, namun kini dituntut mendidik anak-anak mereka dengan pendekatan yang serba lembut (soft spoken). Di saat yang sama, mereka kerap berada dalam posisi dilematis di tengah konflik keluarga, seperti menjadi penengah antara orang tua dan pasangan tanpa tahu harus berpihak kepada siapa.

"Secara tidak langsung, kita adalah generasi yang dihimpit oleh masa lalu kita yang dididik sedemikian rupa, sekaligus harus memikirkan bagaimana cara terbaik mendidik masa depan anak-anak kita. Beban emosional ini membuat anak muda kerap merasa serba salah," ucapnya.

Salah satu poin krusial yang perlu diluruskan adalah stigma masyarakat yang masih menganggap anak sebagai "investasi berjalan" untuk melunasi keinginan masa lalu orang tua. Beban ini kerap disembunyikan di balik senyum anak yang tak berani menolak keinginan orang tuanya, meski kapasitas finansialnya belum memadai.

"Jangan membebankan tuntutan yang tidak rasional kepada anak yang sedang berjuang meniti karier. Tugas anak memang menghormati dan merawat orang tua ketika sudah tidak mampu bekerja, namun orang tua juga harus bijak memahami batas kemampuan anaknya," tegas Sukma Aptiutami.

Dari kacamata ajaran agama Hindu, ajaran Karma Pala mengajarkan bahwa setiap perbuatan ditanggung oleh pelakunya sendiri. Namun, imbas (impact) sosial dari keputusan orang tua sering kali ikut dirasakan oleh anak.

Untuk menyikapi tekanan tersebut, generasi sandwich diimbau untuk berani menetapkan batasan yang sehat (healthy boundaries) dan menyadari swadharma (kewajiban) masing-masing tanpa mengorbankan diri sendiri.

Bagi anak muda yang sedang berjuang, langkah pertama untuk bertahan adalah menghargai dan menjaga diri sendiri terlebih dahulu:

  1. Cek Kebutuhan Dasar : pastikan kebutuhan fisik (makan, istirahat) dan kesehatan mental pribadi sudah terpenuhi sebelum memikirkan tuntutan orang lain.
  2. Berani Berkomunikasi : sampaikan kondisi fisik dan finansial secara jujur dan santun kepada keluarga.
  3. Fokus pada Skala Prioritas : dahulukan hal yang menjadi kewajiban utama dibandingkan keinginan yang belum mendesak.

"Bagi kalian yang merasa berada dalam dilema dan tekanan ini, ingatlah bahwa kalian bukan hasil didikan yang gagal. Jangan pernah merasa minder atau putus asa. Sayangi diri kalian, pahami batas kemampuan, dan tetaplah melangkah dengan bangga," tutup Sukma Aptiutami.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....