Fenomena Generasi Sandwich: Terjepit antara Masa Lalu dan Masa Depan
- 06 Agt 2026 08:06 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar – Menjadi penopang kehidupan orang tua sekaligus mempersiapkan masa depan diri dan keturunan bukanlah perkara mudah. Fenomena generasi sandwich, yaitu generasi yang terhimpit di antara tuntutan generasi di atasnya dan harapan masa depan bagi generasi di bawahnya, kini menjadi realitas sosial yang dialami banyak anak muda.
Dalam acara Rahajeng Bali, pada Selasa, 4 Agustus 2026, Penyuluh Agama Hindu Kantor Kementerian Agama Kabupaten Badung, Ni Putu Sukma Aptiutami menyebut dilema generasi sandwich tidak hanya berkutat pada persoalan finansial semata, melainkan juga beban mental dan emosional. Banyak anak muda hari ini dibesarkan dengan pola pengasuhan masa lalu yang cenderung keras, namun kini dituntut mendidik anak-anak mereka di era modern dengan pola asuh yang lebih lembut (soft spoken).
| Baca juga: Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah |
"Secara tidak langsung, kita adalah generasi sandwich itu. Kita dihimpit oleh masa lalu kita yang dididik sedemikian rupa, dan kita harus mendidik masa depan kita. Tuntutan ini kerap membuat posisi anak menjadi dilematis," tutur Sukma Aptiutami.
Menurut Sukma Aptiutami memberikan kritik terhadap pandangan sebagian orang tua yang menganggap anak sebagai "investasi berjalan". Tidak jarang, anak yang baru mulai meniti karier sudah dihimpit berbagai tuntutan materi dari orang tua yang sebetulnya masih mampu secara fisik.
"Masih banyak orang tua yang menganggap anak sebagai investasi berjalan. Padahal, kita harus menyadari bahwa anak punya hakikat dan kehidupannya sendiri. Menghormati dan merawat orang tua ketika mereka pensiun memang kewajiban anak, namun jangan membebankan tuntutan berlebihan saat anak sedang berjuang," tegasnya.
Dari sudut pandang ajaran agama Hindu, diskusi RRI Denpasar ini juga meluruskan pemahaman mengenai Karma Pala. Secara prinsip, karma atas suatu perbuatan akan ditanggung oleh orang yang melakukannya. Namun, dampak atau imbas (impact) dari keputusan dan tindakan orang tua kerap ikut dirasakan oleh anak-anak dan keturunannya.
Oleh karena itu, penting bagi setiap pihak untuk menyadari swadharma (tugas dan kewajiban) masing-masing :
- Orang Tua : memberikan pengasuhan yang bijak, tidak memaksakan kehendak, dan memikirkan kesiapan finansial serta mental.
- Anak : berbakti dan menghormati orang tua sesuai batas kemampuan tanpa mengabaikan kebutuhan dasar serta kesehatan mental diri sendiri.
Sukma menyampaikan pesan penguatan bagi anak-anak muda yang saat ini merasa lelah dan berada dalam himpitan generasi sandwich. Ia mengingatkan anak muda terlebih dahulu memastikan kebutuhan dasar dirinya terpenuhi, seperti kecukupan makan, istirahat, dan kesehatan mental sebelum memikul beban lain di luar kemampuannya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....