Gadget Bukan Musuh, Orang Tua Tetap Harus Hadir

  • 13 Jul 2026 13:44 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar – Di era digital, gawai atau gadget telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari, termasuk bagi anak-anak. Namun, persoalan bukan semata pada keberadaan teknologi tersebut, melainkan bagaimana orang tua hadir mendampingi anak dalam menggunakannya. Kehadiran ayah dan ibu dinilai tetap menjadi faktor utama dalam membentuk tumbuh kembang anak yang sehat, baik secara fisik maupun mental.

Pada acara Rahajeng Bali,pada Rabu, 8 Juli 2026. Psikolog dari Pusat Pembelajaran Keluarga (PUSPAGA) Kota Denpasar, Mira Laksmi, menjelaskan bahwa gadget bukanlah sesuatu yang harus dijauhi sepenuhnya. Yang perlu dilakukan adalah memastikan anak menggunakan teknologi secara seimbang dan tetap memperoleh aktivitas fisik, interaksi sosial, serta perhatian dari kedua orang tuanya.

Menurutnya, saat ini banyak anak menghabiskan waktu di dalam rumah dengan tangan yang sibuk memegang gawai. Kondisi tersebut berbeda dengan generasi sebelumnya yang lebih banyak bermain di luar rumah, memanjat pohon, berlari, atau berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar. Aktivitas fisik tersebut secara tidak langsung melatih koordinasi tubuh, konsentrasi, hingga kemampuan bersosialisasi. "Anak-anak sekarang bukan tidak boleh menggunakan gadget, tetapi jangan sampai dikuasai gadget," ujarnya .

Ia mengungkapkan, berkurangnya aktivitas fisik membuat sebagian anak mengalami kesulitan berkonsentrasi saat belajar. Guru di sekolah juga kerap melaporkan adanya siswa yang sulit duduk tenang, mudah terdistraksi, hingga kurang fokus mengikuti pelajaran. Karena itu, aktivitas sederhana seperti bermain di luar rumah, berolahraga, atau mengurangi durasi layar dinilai dapat membantu perkembangan anak.

Namun, solusi tersebut tidak akan berjalan optimal tanpa keterlibatan orang tua. Dalam layanan konseling yang dilakukan PUSPAGA, pihaknya justru lebih banyak bertemu dengan ibu, sementara kehadiran ayah masih relatif minim. Padahal, proses pengasuhan merupakan tanggung jawab bersama.

Mira menilai, konseling hanya berlangsung sekitar satu jam, sedangkan pendidikan karakter anak terjadi setiap hari di rumah. Oleh sebab itu, keberhasilan membentuk kebiasaan baik sangat bergantung pada konsistensi orang tua dalam menerapkan pola pengasuhan yang telah disarankan.

Senada dengan itu, LBH APIK Bali, Gusti Agung Ayu Marhaeni, mengatakan bahwa kehadiran ayah tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan ekonomi, tetapi juga membangun kedekatan emosional dengan anak. Ayah yang terlibat dalam kehidupan sehari-hari akan membantu anak merasa lebih aman, percaya diri, dan memperoleh teladan dalam kehidupan.

Menurutnya, pembagian peran dalam keluarga kini telah berubah. Pengasuhan bukan lagi hanya tugas ibu, melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara ayah dan ibu. Kehadiran keduanya menjadi fondasi penting dalam menciptakan keluarga yang harmonis sekaligus mencegah munculnya berbagai persoalan, termasuk kekerasan dalam rumah tangga.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, para orang tua diingatkan untuk tidak hanya membatasi penggunaan gadget, tetapi juga memperbanyak waktu berkualitas bersama anak. Mengajak bermain, berolahraga, berbincang, atau sekadar mendengarkan cerita anak merupakan bentuk kehadiran yang tidak dapat digantikan oleh layar digital.

Pada akhirnya, gadget hanyalah alat. Yang paling dibutuhkan anak bukan sekadar perangkat canggih, melainkan orang tua yang hadir, mendampingi, dan tumbuh bersama mereka di setiap tahap kehidupan. Dengan pendampingan yang tepat, teknologi dapat menjadi sarana belajar yang bermanfaat tanpa mengurangi hangatnya hubungan dalam keluarga.

google-preference
Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....