Gadget: Membantu Kehidupan atau Menjadi Ancaman Baru?
- 08 Mei 2026 21:34 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam kehidupan masyarakat. Gadget yang awalnya hadir untuk mempermudah komunikasi, pekerjaan, hingga pendidikan, kini menjadi bagian yang sulit dipisahkan dari aktivitas sehari-hari. Namun di balik manfaat tersebut, muncul kekhawatiran baru mengenai dampak penggunaan gadget yang berlebihan, terutama pada anak dan remaja.
Dalam acara Rahina Ayu pada Kamis, 7 Mei 2026, Prof. Dr. dr. Cokorda Bagus Jaya Lesmana, SpKJ (K), Mars, mengatakan angka kecanduan gadget saat ini terus meningkat. Bahkan, menurutnya, sekitar 20 hingga 35 persen masyarakat mengalami ketergantungan terhadap gadget, dengan angka tertinggi terjadi pada remaja dan dewasa muda. “Di awal kita sangat mensyukuri karena teknologi membantu komunikasi dan pembelajaran. Tapi kita melupakan bahwa percepatan penggunaan teknologi ini juga memiliki dampak negatif,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penggunaan gadget meningkat pesat sejak masa pandemi COVID-19 ketika hampir seluruh aktivitas dilakukan secara daring. Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin terbiasa hidup berdampingan dengan layar digital.
Menurutnya, perubahan yang terjadi bukan hanya soal kebiasaan menggunakan telepon genggam, tetapi juga memengaruhi cara berpikir dan perilaku generasi muda. Anak-anak kini tumbuh dengan akses informasi yang sangat cepat dan luas, sehingga pola komunikasi dengan orang tua pun ikut berubah. “Kalau dulu anak belajar dari keluarga dan lingkungan sekitar, sekarang dunia pembandingnya adalah dunia maya dengan miliaran informasi yang bisa diakses dalam hitungan detik,” katanya.
Sementara itu, dr. Made Peri Ardiana K. menilai kecanduan gadget dipengaruhi banyak faktor, mulai dari lingkungan keluarga, pergaulan sosial, hingga desain aplikasi digital yang memang dibuat agar pengguna terus berinteraksi dengan layar.
Ia mencontohkan munculnya fenomena fear of missing out atau FOMO, yakni rasa takut tertinggal informasi yang membuat seseorang terus memeriksa gadgetnya. “Fitur-fitur di aplikasi sekarang memang dirancang agar orang terus menonton dan sulit berhenti. Akhirnya muncul ketergantungan tanpa disadari,” jelasnya.
Di sisi lain, Prof. Dr. dr. Luh Ketut Suryani, SpKJ (K ) menekankan bahwa persoalan gadget tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada anak. Ia menilai peran keluarga sangat menentukan dalam membentuk pola penggunaan teknologi yang sehat. “Jangan cuma salahkan anak. Orang tua juga harus punya waktu untuk berbicara, bercanda, dan dekat dengan anak-anaknya,” ujarnya.
Ia menilai, kesibukan orang tua sering membuat gadget dijadikan pengganti kehadiran keluarga di rumah. Padahal, anak membutuhkan interaksi langsung untuk tumbuh secara emosional dan sosial.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, masyarakat pun dihadapkan pada tantangan baru, yaitu bagaimana memanfaatkan gadget secara bijak tanpa kehilangan kendali. Sebab, teknologi pada dasarnya diciptakan untuk membantu manusia, bukan justru menjauhkan manusia dari kehidupan sosial dan keluarganya sendiri.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....