Tebu Dinilai Jadi Komoditas Pertanian Menjanjikan
- 07 Mei 2026 09:20 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Tanaman tebu kembali mendapat perhatian sebagai salah satu komoditas perkebunan bernilai ekonomi tinggi yang dinilai mudah dibudidayakan di wilayah tropis seperti Indonesia. Selain menjadi bahan baku utama gula nasional, tebu juga mendukung industri energi terbarukan dan pakan ternak.
Pengamat pertanian dari berbagai lembaga menilai permintaan gula domestik yang stabil membuat budidaya tebu masih menjadi sumber pendapatan penting bagi petani. Data Kementerian Pertanian menunjukkan kebutuhan gula nasional terus meningkat seiring pertumbuhan industri makanan dan minuman.
Tanaman tebu (Saccharum officinarum) termasuk famili rumput-rumputan dengan batang yang menyimpan sukrosa tinggi. Menurut publikasi Food and Agriculture Organization (FAO), tebu menjadi salah satu tanaman penghasil biomassa terbesar di dunia karena hampir seluruh bagian tanaman dapat dimanfaatkan, mulai dari nira hingga ampas tebu atau bagasse.
| Baca juga: Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 |
Dalam jurnal Sugar Tech tahun 2023 disebutkan bahwa pengembangan varietas unggul tebu mampu meningkatkan produktivitas lahan sekaligus memperbaiki rendemen gula. Beberapa varietas yang kini banyak dibudidayakan di Indonesia antara lain SGN-01, NX-04, dan PS Nusantara 081–084 karena dinilai memiliki pertumbuhan cepat dan adaptif terhadap kondisi iklim tropis.
Selain produktivitas, keberhasilan budidaya tebu juga ditentukan oleh kondisi lahan dan pemupukan. Penelitian Balai Penelitian Tanaman Pemanis dan Serat menyebutkan tebu tumbuh optimal pada suhu 25–32 derajat Celsius dengan curah hujan 1.500–2.500 milimeter per tahun. Tanah gembur dengan drainase baik juga menjadi syarat utama agar pertumbuhan batang berlangsung maksimal.
Praktisi pertanian menyarankan penggunaan pupuk organik dan pemupukan berimbang untuk menjaga kesuburan tanah. Pemupukan nitrogen pada fase awal pertumbuhan dinilai efektif mempercepat pembentukan batang.
Di sisi lain, pengembangan perkebunan tebu juga menimbulkan perhatian terhadap dampak ekologis. Jurnal Environmental Development tahun 2022 mencatat budidaya tebu intensif berpotensi menyebabkan penurunan kesuburan tanah, konsumsi air tinggi, hingga berkurangnya keanekaragaman hayati akibat sistem monokultur.
Karena itu, sejumlah pakar mendorong penerapan budidaya tebu berkelanjutan melalui rotasi tanaman, pengurangan pembakaran lahan, serta penggunaan irigasi hemat air.
Dengan dukungan teknologi budidaya dan pengelolaan lingkungan yang tepat, tebu dinilai masih memiliki prospek besar sebagai komoditas strategis nasional, baik untuk kebutuhan pangan maupun energi terbarukan.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....