Arsitektur Bali menjadi Strategi Mitigasi Bencana Tradisional
- 08 Apr 2026 21:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar- Sekretaris Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dinas PMD Dukcapil) Provinsi Bali, Drs. Si Ngurah Made Arya Astawa, M.Si., mengatakan kearifan lokal masyarakat Bali melalui konsep Asta Kosala Kosali, dinilai memiliki peran strategis sebagai sistem mitigasi bencana tradisional, yang sangat efektif dalam melindungi warga dari dampak kerusakan masif. “Tata letak arsitektur Bali, sangat mendukung mitigasi bencana karena bangunan yang terpisah-pisah mampu menghindari dampak kerusakan yang lebih besar pada bangunan lainnya," ujar Astawa dalam acara Obrolan Komunitas di Pro 4 RRI Denpasar.
Astawa menambahkan konsep tata ruang yang memisahkan antara bangunan Bale Daja, Bale Dangin, hingga area dapur secara fisik, merupakan bentuk proteksi dini terhadap risiko penyebaran api saat terjadi musibah kebakaran. Selain arsitektur, Bali juga memiliki sistem irigasi Subak yang berfungsi membagi aliran air ke petak sawah secara adil, sehingga secara alami menjadi sarana pencegahan banjir.
Keberadaan warisan leluhur ini membuktikan bahwa nenek moyang masyarakat Bali, telah memiliki kesadaran tinggi terhadap keselamatan lingkungan, jauh sebelum teknologi mitigasi modern berkembang pesat. “Di era kekinian diperlukan sinergi antara kebijakan pemerintah dengan nilai-nilai tradisional, untuk membangun ketangguhan masyarakat secara mandiri, melalui modal sosial yang sudah ada di setiap wilayah” ungkap Astawa.
Astawa menjelaskan budaya gotong royong yang kuat, menjadi kunci utama saat terjadi bencana banjir beberapa waktu lalu, dalam kondisi seperti itu warga secara spontan saling membantu tanpa menunggu instruksi. Kekuatan komunitas ini merupakan aset penting yang harus terus dipelihara, agar proses pemulihan pasca-bencana di tingkat Banjar dapat berjalan lebih cepat dan efisien.
Pemerintah Provinsi Bali terus mendorong agar desa-desa adat mampu berkolaborasi dengan berbagai pihak dan seluruh lapisan masyarakat, dalam mengintegrasikan kearifan lokal ke dalam rencana tanggap darurat di wilayah masing-masing. Langkah ini diambil karena pendekatan berbasis budaya dirasa lebih mudah diterima dan dipahami oleh masyarakat luas dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana di lingkungannya.
Astawa menegaskan integrasi antara kearifan lokal dengan kebijakan modern, akan menciptakan sistem pertahanan wilayah yang unik dan kuat di Bali. “Masyarakat diharapkan tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah pusat, namun tetap melestarikan nilai-nilai budaya sebagai bagian dari kesiapsiagaan bencana yang berkelanjutan” tutup Astawa.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....