Budaya Bersih dan Harmonis dari Desa Penglipuran
- 07 Feb 2026 22:31 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Desa Adat Penglipuran, yang terletak di kabupaten Bangli, dikenal sebagai desa wisata yang memiliki kekhasan tersendiri. Selain struktur pemukimannya yang unik dengan angkul-angkul yang hampir sama pada setiap rumah, dengan arsitektur rumah tradisional khas Penglipuran, desa ini juga kaya dengan hutan bambu.
Dihimpun dari berbagai sumber penglipuran banyak didatangi oleh wisatawan dan dikaji oleh para ilmuwan untuk kepentingan pendidikan. Keberadaan penglipuran adalah berawal dari konsep melaksanakan konservasi desa.
Dari segi budaya adat, fisik maupun non fisik, khususnya dari segi tata ruang desa, rumah-rumah adat di Penglipuran memakai sirap bambu, angkul-angkul atau pintu gerbang yang sama antara satu keluarga dengan keluarga yang lain. Masyarakat di Desa Penglipuran menganut sebuah konsep kesederhanaan dalam kebersamaan.
Tatanan desa dengan konsep tri mandala dengan orientasi dari utara ke selatan (Kaja Kelod), dari area yang lebih tinggi ke tempat yang lebih rendah. Budaya-budaya yang lainya seperti budaya bersih memang sudah diwarisi dari dulu.
Ada aturan warga desa harus memiliki rasa persatuan dan kesatuan, kerukunan antar tetangga. Hal ini bisa kita lihat dari atap rumah keluarga satu dengan keluarga lainnya itu saling menyambung.
Setiap bagian atap rumah di utara menuju ke tetangga di sebelah utara, artinya kalau ada hujan, terjadilah peristiwa menerima dan saling mengirim air hujan. Namun tidak ada yang saling menyalahkan, tidak ada yang namanya istilah pamali.
| Baca juga: Pendidikan Karakter Dimulai dari Rumah |
Kalau kita menelusuri rumah penduduk, di setiap batas pekarangan ada tembok dan selalu ada pintu menuju ke tetangga, dari tetangga selatan ke utara atau sebaliknya. Setiap rumah terhubung sehingga kita bisa masuk dari tetangga satu ke tetangga lainnya tanpa harus ke jalan utama.
Ini pencerminan sebuah budaya keharmonisan, sistem komunikasinya sangat praktis, hubungan yang penuh kepercayaan antar tetangga tanpa harus saling mencurigai atau kekhawatiran karena pintunya terbuka sesuatu akan diambil oleh tetangga.
Konsep awal Desa penglipuran adalah melestarikan, mempertahankan budaya aslinya yang masih tetap relevan dalam kehidupan sampai saat ini. Warisan para tetua masyarakat dahulu untuk mengkonservasi, melestarikan budaya yang dmiliki seperti rumah adat beratap sirap bambu, angkul angkulnya, dilakukan dengan musyawarah. Tidak ada pemaksaan dari pihak pimpinan, semua didasari atas kemauan bersama yang disepakati melalui musyawarah desa.
Desa Penglipuran memiliki budaya bersih yang berakar dari ritual meras luwu. Meras luwu adalah sebuah upacara ketika ada penobatan Jro Kubayan, tokoh yang dinobatkan itu tidak boleh membuang sampah sembarangan termasuk buang air liur sembarangan dan lain sebagainya. Pada akhir pelaksanaan tapa bratanya yang dilakukan selama 11 hari, hasil-hasil sampah yang ada dalam kegiatan itu, apakah itu dari sampian atau canangnya itu akan dilaksanakan sebuah ritual yang namanya meras luwu.
Ini sebuah pencerminan, mencontohkan kepada generasi muda, kita harus peduli kepada lingkungan untuk menjaga keharmonisan hidup antara manusia dengan alam lingkungannya, dengan tidak membuang sampah sembarangan dan kita menghargai walaupun itu luwu yang artinya kotoran, kita harus kembalikan, kita harus tempatkan pada fungsinya dengan selalu mohon petunjuk atau getaran spiritual kepada Tuhan Yang Maha Esa, kembali kepada pertiwi sehingga nanti berguna juga untuk kepentingan kesejahteraan manusia itu sendiri.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....