Kekerasan Pada Anak Tak Selalu Meninggalkan Memar
- 06 Feb 2026 17:24 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Selama ini, kekerasan pada anak kerap dipahami sebatas luka fisik, memar, lebam, atau tangisan yang terlihat. Padahal ada luka lain yang jauh lebih sunyi dan kerap luput disadari, yaitu luka mental yang membekas dalam ingatan anak hingga dewasa.
Hal ini mengemuka dalam Program Rahajeng Bali bertajuk “Luka yang Tak Terlihat: Kesehatan Mental Anak Korban Kekerasan” pada Jumat, 6 Februari 2026. Diskusi ini membuka mata publik bahwa kekerasan emosional, verbal, hingga pengabaian kerap terjadi di ruang yang seharusnya paling aman bagi anak: rumah dan lingkungan terdekatnya.
Komisioner KPAD Provinsi Bali, Lilik Ismunartono Santoso, menyebut bahwa dampak kekerasan terhadap anak tidak selalu muncul secara instan. Banyak anak terlihat “baik-baik saja” di permukaan, namun menyimpan trauma yang memengaruhi kepercayaan diri, emosi, hingga relasi sosial mereka di masa depan. “Luka mental ini sering kali baru terasa setelah waktu berlalu, bahkan ketika anak sudah dewasa,” ujar Lilik.
Sementara itu, Kepala UPTD PPA Provinsi Bali, Luh Hety Vironika, menegaskan pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam mendengar suara anak. Menurutnya, keluhan anak kerap dianggap sepele karena usia mereka yang masih kecil. Padahal, sikap meremehkan justru dapat memperdalam luka batin yang mereka rasakan. “Anak perlu didengar, dipercaya, dan diberi ruang aman untuk bercerita,” Jelas Hety.
Diskusi juga menyoroti bagaimana kekerasan verbal seperti label “bodoh”, “nakal”, atau bentakan yang berulang dapat membentuk konsep diri negatif pada anak. Tanpa disadari, kata-kata tersebut tertanam kuat di alam bawah sadar dan memengaruhi cara anak memandang dirinya sendiri.
Praktisi hipnoterapi, I Nyoman Sudiasa, menambahkan bahwa banyak kasus trauma, kecemasan, hingga perilaku menyakiti diri sendiri pada anak berakar dari pengalaman kekerasan yang tidak pernah disadari atau ditangani sejak dini. “Trauma itu tidak hilang, tapi bisa dipulihkan jika lingkungan mau peduli dan bertindak,” tegas Sudiasa.
Melalui dialog ini, para narasumber mengingatkan bahwa mencegah kekerasan pada anak bukan hanya soal menghentikan pukulan, tetapi juga membangun komunikasi yang sehat, penuh empati, dan menghargai perasaan anak. Karena pada akhirnya, kekerasan memang tak selalu meninggalkan memar, namun jejaknya bisa tinggal seumur hidup.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....