Hidup Analog di Era Scroll Tanpa Henti
- 30 Jan 2026 07:24 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Bangun tidur, refleks pertama banyak orang sekarang bukan doa atau tarik napas, tapi membuka handphone. Notifikasi numpuk, timeline tidak ada ujungnya.
Melansir dari nytimes.com, otak manusia tidak pernah benar-benar dirancang untuk konsumsi informasi tanpa jeda. Di sinilah konsep hidup lebih analog mulai relevan.
Analog bukan berarti anti-teknologi atau balik ke zaman dulu. Ini soal mengembalikan beberapa momen ke versi paling dasar seperti menulis tangan, menikmati musik tanpa scroll sosial media, atau sekadar duduk tanpa distraksi.
Detoks digital sering disalahpahami sebagai “puasa HP total”. Padahal, hidup analog justru lebih halus caranya. Mulai dari hal kecil seperti memakai jam tangan analog agar tidak hanya cek notifikasi setiap melihat waktu, atau baca buku fisik sebelum tidur.
Musik jadi contoh menarik. Mendengarkan vinyl atau kaset memaksa kita untuk benar-benar mendengar, bukan sekadar jadi background noise sambil scroll.
Interaksi sosial juga berubah jika hidup lebih analog. Mengobrol tanpa Handphone di meja, jalan tanpa Google Maps sesekali, atau nyasar sedikit tanpa panik.
Menariknya, hidup analog bukan soal melawan zaman, tapi soal memilih dengan sadar. Kita tetap bisa pakai teknologi, tapi bukan sebagai tuan rumah.
Banyak orang mulai menetapkan “jam offline”, bukan karena ingin terkesan produktif, namun karena lelah menjadi selalu available. Time.com menyebut tren ini sebagai bentuk self-care modern yang paling masuk akal.
Hidup lebih analog itu tentang memberi ruang. Ruang untuk bosan, berfikir, dan merasakan hidup tanpa filter. Detoks digital bukan soal kabur dari dunia, tapi balik mengendalikan atensi.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....