Jejak Calo: Dari Perantara Budaya hingga Fenomena Ekonomi Bayangan

  • 16 Feb 2026 17:57 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar - Dalam keseharian masyarakat Indonesia, istilah "Calo" sering kali muncul di terminal, stasiun, hingga pengurusan administrasi publik. Meski kini sering diasosiasikan dengan sisi negatif atau pungutan liar, secara historis, eksistensi calo mencerminkan dinamika perantara yang telah ada sejak zaman kolonial dan terus bertransformasi hingga era digital.

Asal-usul kata "Calo" sendiri memiliki beberapa versi sejarah yang menarik. Merujuk pada kajian kebahasaan dari Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, istilah ini kuat diduga berasal dari bahasa Portugis, yakni calão, yang merujuk pada bahasa sandi atau dialek tertentu yang digunakan oleh kelompok tertentu agar tidak dimengerti pihak luar.

Dalam perkembangannya di Nusantara, istilah ini bergeser makna menjadi sebutan bagi orang yang menggunakan "bahasa khusus" atau keahlian negosiasi untuk menghubungkan dua pihak yang tidak saling mengenal. Calo menjadi jembatan informasi di tengah sistem birokrasi yang kala itu belum transparan.

Berdasarkan catatan sejarah dari Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI), praktik perantara sudah sangat subur di pelabuhan-pelabuhan besar pada abad ke-19. Para perantara ini biasanya membantu pedagang asing berkomunikasi dengan penguasa lokal atau pengelola pelabuhan.

Memasuki medio 1950-an, saat mobilitas penduduk mulai meningkat namun sistem transportasi massal belum teratur, peran calo bergeser ke sektor tiket dan jasa angkutan. Calo muncul sebagai "penolong" sekaligus "penguasa" akses bagi masyarakat yang awam terhadap prosedur resmi yang berbelit-belit.

Di era digital, praktik calo konvensional mulai tergerus oleh sistem pemesanan daring yang transparan. Namun, sosiolog dari Universitas Indonesia (UI) mencatat bahwa calo tidak hilang, melainkan bermetamorfosis menjadi entitas digital.

Fenomena calo tiket konser atau pertandingan olahraga kini menggunakan program komputer atau bot untuk memborong tiket dalam hitungan detik. Di sisi lain, muncul pula bentuk calo yang lebih "diterima" secara sosial, seperti jasa titip atau jastip, yang pada dasarnya melakukan fungsi perantara dengan imbalan jasa, namun dalam kemasan gaya hidup digital.

Sejarah calo adalah sejarah tentang celah dalam sebuah sistem. Selama masih ada jarak antara permintaan masyarakat dengan akses pelayanan yang terbatas atau rumit, peran perantara akan selalu ditemukan. Tantangan bagi pemerintah di masa depan adalah menciptakan sistem layanan publik yang begitu mudah dan transparan, sehingga peran calo baik fisik maupun digital tidak lagi memiliki ruang untuk tumbuh.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....