Ketika Anak Tak Sadar Menjadi Korban Child Grooming

  • 28 Jan 2026 20:42 WIB
  •  Denpasar

RRI.CO.ID, Denpasar- Bagi sebagian anak, perhatian dan pujian terasa seperti bentuk kasih sayang yang tulus. Namun tanpa disadari, kedekatan itu bisa menjadi pintu masuk kejahatan yang perlahan menjebak, yakni child grooming. Kejahatan ini kerap tidak disadari korban karena datang tanpa paksaan, tanpa ancaman, dan tanpa kekerasan.

Dalam dialog interaktif bersama Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Provinsi Bali pada Jumat, 23 Januari 2026 lalu, terungkap bahwa child grooming bekerja melalui pendekatan emosional yang halus dan bertahap. Anak dibangun rasa nyamannya, dibuat merasa istimewa, diperhatikan, dan dipercaya, hingga akhirnya tidak lagi mampu membedakan mana perhatian yang sehat dan mana yang manipulatif.

Ketua KPAD Provinsi Bali, Ni Luh Gede Vastini, S.H menjelaskan bahwa banyak anak tidak merasa dirinya sedang menjadi korban. “Anak sering menganggap relasi itu sebagai bentuk kasih sayang. Bahkan ada yang merasa bersalah atau takut bercerita karena pelaku sudah lebih dulu menanamkan rasa ketergantungan emosional,” ujar Vastini.

Dalam kondisi tersebut, anak kerap menutup diri dari orang tua dan lingkungan terdekat. Pelaku child grooming biasanya secara perlahan menjauhkan anak dari sistem pendukungnya, membuat anak merasa hanya pelaku yang memahami dan menerimanya. Situasi inilah yang membuat child grooming sulit terdeteksi sejak awal.

Praktik child grooming tidak hanya terjadi secara langsung di lingkungan sekitar anak, tetapi juga marak melalui media sosial dan platform digital. Dunia maya memberi ruang bagi pelaku untuk membangun komunikasi intens secara privat, sementara anak belum memiliki kematangan emosional untuk mengenali tanda bahaya.

Komisioner KPAD Provinsi Bali, Lilik Ismurtono Santoso, menegaskan bahwa anak dalam kasus child grooming adalah korban sepenuhnya. “Anak tidak bisa diposisikan sebagai pihak yang bersalah. Mereka dimanipulasi secara psikologis. Dampaknya bisa panjang, mulai dari trauma, rasa takut, hingga gangguan kepercayaan diri di masa depan,” jelasnya.

Karena itu, pencegahan child grooming tidak cukup hanya dengan pengawasan, tetapi juga membutuhkan komunikasi yang hangat dan terbuka dalam keluarga. Anak perlu dibiasakan bercerita, didengarkan tanpa dihakimi, serta diajarkan mengenali batasan diri dan perasaan tidak nyaman.

Child grooming adalah kejahatan tersembunyi yang sering luput dari perhatian karena berkamuflase sebagai kasih sayang. Ketika anak tak sadar dirinya menjadi korban, peran orang dewasa di sekitarnya menjadi sangat penting untuk hadir, peka, dan melindungi.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....