Kacamata: Alat Bantu Baca Menjadi Simbol Gaya Hidup
- 24 Jan 2026 17:14 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID, Denpasar - Kacamata kini telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan manusia, baik sebagai alat bantu medis maupun aksesori fesyen. Namun, perjalanan alat ini dimulai dari potongan kristal sederhana hingga menjadi teknologi canggih yang kita kenal saat ini.
Sebelum kacamata ditemukan, manusia menggunakan alat bantu optik primitif. Berdasarkan catatan Museum of Vision, pada abad ke-10, para cendekiawan menggunakan apa yang disebut dengan "batu baca" sebuah potongan batu kuarsa atau kristal berbentuk setengah bola yang diletakkan di atas teks untuk memperbesar huruf.
Inovasi kacamata pertama yang bisa dipakai di wajah diyakini muncul di Italia pada akhir abad ke-13, sekitar tahun 1284. Menurut literatur dari College of Optometrists (UK), tokoh bernama Salvino D'Armate sering dikaitkan dengan penemuan ini, meskipun bukti sejarah lebih kuat merujuk pada para biarawan di Pisa yang mulai menyatukan dua lensa cembung dengan bingkai kayu atau tanduk untuk membantu penderita presbiopia (rabun dekat).
Selama berabad-abad, kacamata tidak memiliki gagang seperti sekarang. Pemakainya harus memegang bingkai tersebut atau menjepitnya di hidung (dikenal sebagai pince-nez). Terobosan besar terjadi pada tahun 1727 ketika seorang ahli optik asal Inggris bernama Edward Scarlett menyempurnakan desain kacamata dengan menambahkan gagang yang melengkung di atas telinga.
Dari sisi teknologi lensa, Benjamin Franklin mencatatkan namanya dalam sejarah pada tahun 1784. Berdasarkan dokumentasi dari The Franklin Institute, Franklin merasa lelah karena harus terus mengganti dua pasang kacamata untuk melihat jauh dan dekat. Ia kemudian memotong dua jenis lensa dan menyatukannya dalam satu bingkai, yang kini kita kenal sebagai lensa bifokal.
Memasuki abad ke-20, material kacamata mengalami perubahan drastis. Berdasarkan data dari Vision Council of America, penemuan plastik dan selulosa asetat memungkinkan produksi bingkai kacamata menjadi lebih ringan, berwarna, dan terjangkau secara massal. Pada masa ini pula, kacamata hitam (sunglasses) mulai populer, terutama setelah perusahaan Bausch & Lomb mengembangkan lensa untuk pilot militer yang kemudian menjadi merek ikonik, Ray-Ban.
Kini, di tahun 2026, kacamata tidak hanya berhenti pada lensa korektif, tetapi telah merambah ke dunia digital melalui smart glasses yang mengintegrasikan teknologi Augmented Reality (AR).
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....