Kesiapsiagaan Dimulai dari Tas Siaga Bencana
- 12 Feb 2026 21:32 WIB
- Denpasar
RRI.CO.ID - Kesiapsiagaan merupakan langkah awal yang sangat penting dalam menghadapi potensi bencana. Kesiapsiagaan berarti upaya yang dilakukan sebelum bencana terjadi, agar masyarakat siap secara mental maupun fisik ketika situasi darurat datang.
Mengingat Indonesia, termasuk Bali, berada di wilayah rawan bencana, kesiapan menjadi tanggung jawab bersama, termasuk generasi muda. Salah satu bentuk kesiapsiagaan yang sederhana namun krusial adalah menyiapkan tas siaga bencana.
Tas siaga bencana adalah tas yang berisi perlengkapan kebutuhan dasar untuk bertahan hidup selama masa darurat, terutama saat menunggu bantuan dari tim penyelamat. Dalam dialog tanggap bencana Pro 2 bertajuk “Anak Muda, antara Gaya Hidup dan Risiko Bencana”, Dwi Kartika dari Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Tim Cakra Muda Tangguh (CMT) BPBD Provinsi Bali menjelaskan pentingnya tas tersebut “Fungsinya tas siaga itu bagaimana kita bisa bertahan sebelum tim penyelamat datang, karena kita tidak pernah tahu penanganan bencana bagaimana,” ujar Ibu Dwi Kartika.
Ia menegaskan, saat bencana terjadi, situasi sering kali tidak terduga. Bantuan bisa saja terlambat karena akses terputus atau kondisi lapangan yang sulit. Karena itu, setiap orang perlu mempersiapkan perlengkapan pribadi agar dapat bertahan secara mandiri.
Isi tas siaga bencana sebaiknya mencakup dokumen penting seperti KTP, kartu keluarga, dan surat berharga lainnya yang disimpan dalam plastik tahan air. Selain itu, perlu disiapkan makanan ringan siap saji dan air mineral untuk menjaga energi, obat-obatan pribadi sesuai kebutuhan, serta uang tunai untuk keperluan mendesak.
“Perjuangan kita dimulai saat menunggu bantuan datang. Bertahan itu baru merasa apa yang harus dilakukan, ketakutan, kedinginan, misal ada terluka dan sebagainya,” tambah Ibu Dwi Kartika, menggambarkan kondisi yang mungkin dialami korban bencana.
Sementara itu, Ibu Ni Putu Anik Yasmira Ekadewi, Guru Kelas 4 SD Negeri 2 Serangan, menambahkan perlengkapan penting lainnya. “Seperti dijelaskan tadi tas siaga bencana, selain yang disampaikan Bu Dwi, senter, pluit itu tambahan,” ujarnya.
Senter berguna saat kondisi gelap atau listrik padam, sedangkan peluit dapat membantu memberi tanda kepada tim penyelamat jika berada dalam situasi terjebak.
Melalui edukasi seperti ini, diharapkan anak muda tidak hanya memandang kesiapsiagaan sebagai teori, tetapi menjadikannya bagian dari gaya hidup. Tas siaga bencana bukan sekadar perlengkapan, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan diri sendiri dan orang lain.