Kisah Penenun Kain Tradisional, Menenun Kain Merajut Kehidupan

  • 15 Jan 2024 15:05 WIB
  •  Kupang

KBRN,Rote: Penenun kain tradisional adalah salah satu profesi yang dijalankan secara turun temurun. Profesi ini seperti merajut kehidupan ditengah tantangan kemajuan teknologi.

Salah satu dari sekian penenun di kabupaten Rote Ndao, Yeditia Fandu, masih menjalankan profesi ini. Ibu dari lima orang anak ini, membantu suaminya dalam meningkatkan ekonomi melalui hasil menenun kain.

"Saya menenun, sudah sejak dari kecil. Ini pekerjaan turun temurun dari orang tua saya," ucap Yeditia Fandu saat diwawancarai, Minggu, (14/1/2024).

Untuk memasarkan hasil tenunan, ia memanfaatkan teras rumahnya sebagai tempat pajangan kain. Selain itu, suaminya juga memiliki peran dalam pemasaran, dengan cara menjual kain di sejumlah pasar harian yang ada di Rote.

"Hasil tenunan, dipajang di teras rumah. Saya dengan suami juga bekerja sama, saya menenun dan suami yang menjual di pasar," kata Yeditia.

Ditengah kemajuan teknologi, adanya media sosial juga dimanfaatkan sebagai tempat untuk memasarkan hasil tenunan. Hal ini dilakukannya sebagai bentuk jawaban terhadap tantangan penggunaan teknologi dalam pemasaran.

Yeditia menyebut, dalam sebulan ia mampu menyelesaikan selembar sarung atau selimut tenunan. Untuk harga yang dipatok, berkisar Rp. 750.000 hingga Rp. 1.000.000, sesuai motif.

Selain kain sarung atau selimut, Yeditia juga menenun kain selempang. Dalam sekali menenun dapat menghasilkan enam lembar kain selempang, dengan harga yang bervariasi, mulai dari Rp. 50.000 hingga Rp.100.000.

"Kalau menenun selempang, sekali tenun bisa dapat 6 lembar kain, harganya tergantung dari yang bisa cuci itu sedikit lebih, Rp. 100.000 dan yang biasa Rp.50.000.

Menurutnya, Ia sangat bersyukur dengan hasil dari menjalankan profesi sebagai penenun kain. Karena, Yeditia dan suami mampu mengantarkan anak sulung mereka hingga ke perguruan tinggi.

"Puji Tuhan bisa kasih sekolah anak. Anak pertama sudah kuliah, di perguruan tinggi," ujar Yeditia, sambil tersenyum bangga.

Sementara itu, data dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Rote Ndao menyebut di tahun 2023, jumlah pekerja tenun ikat 1.042 orang. Jumlah Produksi hingga, 100.061 lembar kain, dengan nilai produksi hingga Rp.42.360.060.000, dan nilai BB/BP 23.089.711.000. (LA)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....