Literasi Dusun Menyemai Harapan dari Pinggiran Desa

  • 29 Des 2025 19:43 WIB
  •  Mataram

KBRN, Lombok Utara: Di tengah keterbatasan akses buku dan rendahnya minat baca di wilayah pedesaan, secercah harapan tumbuh dari sebuah dusun kecil di Lombok Utara. Berangkat dari inisiatif warga, sebuah komunitas literasi hadir bukan sekadar menyediakan buku, tetapi membangun kebiasaan belajar dan ruang aman bagi seluruh lapisan masyarakat.

Gerakan itu bernama Literasi Dusun, sebuah komunitas literasi yang berdiri sejak 28 Agustus 2021 di Dusun Duria, Desa Rempek, Kecamatan Gangga. Komunitas ini menjadi ruang belajar gratis dan tempat berkreasi bagi anak-anak, remaja, hingga orang tua.

Literasi Dusun dirintis oleh Nobi Abandi, seorang guru honorer di SDIT Al-Hijrah Rempek Darussalam. Berawal dari niat sederhana mengisi waktu libur kuliah sembari mengimplementasikan ilmu yang diperoleh saat menempuh pendidikan di STKIP Hamzar, Nobi mulai membuka kegiatan belajar di lingkungan sekitar rumahnya.

Pada masa awal, kegiatan Literasi Dusun berlangsung secara berpindah-pindah. Berugak dan halaman rumah warga menjadi ruang kelas dadakan, sementara papan tulis sederhana menjadi media utama pembelajaran. Keterbatasan buku bacaan anak disiasati Nobi dengan membuat cerita sendiri berbasis ilustrasi gambar, lalu dibacakan secara bergiliran kepada anak-anak.

Dari aktivitas sederhana itulah, Literasi Dusun perlahan berkembang. Saat ini, layanan peminjaman buku dibuka setiap hari, sedangkan kegiatan belajar rutin dilaksanakan setiap Sabtu.

“Komunitas ini kami rancang sebagai ruang aman dan terbuka untuk belajar membaca, menulis, berhitung, sekaligus berkreasi,” ujar Nobi, Senin (29/12/2025).

Menurutnya, tujuan Literasi Dusun tidak hanya menumbuhkan minat baca dan budaya literasi, tetapi juga mempermudah akses buku bacaan, menyediakan ruang belajar gratis, serta membangun lingkungan pembelajaran yang kolaboratif antara masyarakat, sekolah, dan lembaga lain.

Saat ini, Literasi Dusun didampingi lima relawan, meski hanya satu yang aktif secara konsisten dalam pendampingan harian. Keterbatasan waktu dan kesibukan relawan menjadi tantangan tersendiri. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan dengan jumlah peserta mencapai lebih dari 60 anak.

Beragam kegiatan digelar, mulai dari belajar baca-tulis dan numerasi, peminjaman buku, lapak dan pojok baca, bimbingan literasi, konsultasi belajar, membaca individu dan membaca nyaring, literasi digital, kelas menggambar, hingga belajar sambil bermain. Literasi budaya juga dikembangkan melalui latihan kesenian gendang beleq dan membaca karya sastra.

Peserta berasal dari berbagai kelompok usia. Anak-anak fokus pada pembelajaran dasar dan aktivitas kreatif, remaja difasilitasi dengan literasi budaya dan digital menggunakan aplikasi CapCut dan Canva, sementara orang tua mengikuti kegiatan membaca bersama, konsultasi, serta peminjaman buku.

Dari sisi fasilitas, Literasi Dusun masih menghadapi keterbatasan. Saat ini, komunitas tersebut hanya memiliki satu rak buku dan rumah baca yang masih meminjam lokasi. Buku bacaan diperoleh dari relawan, penerbit, serta donasi masyarakat melalui media sosial.

Dukungan mulai dirasakan pada 2025. Pemerintah desa setempat mulai memberikan perhatian, disusul pendampingan administratif dari Dinas Perpustakaan Kabupaten Lombok Utara, termasuk pembuatan Nomor Pokok Perpustakaan. Dari Dinas Pendidikan, penggerak Literasi Dusun bahkan masuk nominasi GTK Award 2025 sebagai pendidik inspiratif.

Respons masyarakat pun positif. Orang tua merasa terbantu karena anak-anak memiliki ruang belajar yang aman dan produktif. Minat baca serta peminjaman buku menunjukkan peningkatan sejak komunitas ini aktif.

Meski demikian, tantangan masih besar. Keterbatasan dana, belum adanya ruang belajar permanen, minimnya fasilitas, serta kurangnya kesadaran sebagian orang tua akan pentingnya membaca menjadi pekerjaan rumah yang terus dihadapi.

“Pendanaan masih menjadi kendala utama untuk menggelar pelatihan, lomba, dan pengembangan kreativitas anak,” ungkap Nobi.

Ke depan, Literasi Dusun menargetkan pengembangan program berbasis inklusi, pelatihan menulis buku cerita anak, membaca nyaring, literasi digital, hingga pelatihan menulis cerpen. Dukungan berupa pendanaan, ruang belajar permanen, perlengkapan belajar, alat peraga, dan tambahan koleksi buku sangat diharapkan.

Bagi Nobi, literasi bukan sekadar kemampuan membaca, melainkan fondasi utama membangun kualitas sumber daya manusia di desa.

“Masa depan generasi muda ditentukan oleh kebiasaan belajar hari ini,” ujarnya.

Pesan itu terus ia gaungkan kepada anak-anak di Dusun Duria: tetap semangat membaca dan belajar, karena buku adalah jendela ilmu sekaligus jendela dunia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....