Pemilihan Rektor Beradab: Ajakan Prof Kurniawan Tegakkan Politik Nilai di Unram

  • 02 Des 2025 07:26 WIB
  •  Mataram

KBRN, Mataram: Menjelang Pemilihan Rektor Universitas Mataram (Pilrek Unram) periode 2026–2030, tensi politik kampus mulai terasa meningkat. Di tengah dinamika itu, Prof Kurniawan muncul dengan seruan yang menekankan pentingnya menjaga Pilrek tetap beradab, rasional, dan berpijak pada nilai-nilai akademik. Bukan sekadar kontestasi formal empat tahunan, Pilrek menurutnya harus menjadi arena pematangan budaya demokrasi di lingkungan perguruan tinggi.

Tahapan Pilrek telah memasuki fase penetapan calon, pada Senin (1/12/2025). Momentum ini, dalam banyak kasus di kampus lain, tak jarang memunculkan gesekan dan fragmentasi internal. Namun Kurniawan mengingatkan bahwa kualitas pemilihan turut menentukan kualitas kepemimpinan dan tata kelola kampus di tahun-tahun mendatang.

“Unram bisa maju bila proses pemilihannya sehat. Kondusifitas bukan hal tambahan, melainkan prasyarat,” ujarnya.

Lebih jauh, Kurniawan menekankan perlunya politik nilai, yakni sebuah pendekatan yang menempatkan visi, rekam jejak, kapasitas intelektual, serta integritas sebagai dasar pertimbangan utama. Ia menyindir kecenderungan Pilrek di berbagai kampus yang kerap tergelincir pada politik transaksional, manuver personal, atau perebutan kepentingan jangka pendek.

“Pilrek adalah percakapan tentang masa depan. Jika kita memilih berdasarkan kalkulasi jangka pendek, Unram tidak akan bergerak jauh,” jelasnya.

Seruan ini hadir ketika perhatian civitas Unram mulai terfokus pada arah kepemimpinan baru. Kurniawan menyebut bahwa seluruh calon yang lolos seleksi administrasi memiliki ruang setara untuk menyampaikan gagasan. Namun ia kembali mengingatkan agar kompetisi itu tidak menjelma menjadi pertarungan yang mengorbankan etika akademik.

Pada akhirnya, kata Kurniawan, ukuran keberhasilan Pilrek bukan hanya siapa yang menang, tetapi bagaimana proses itu berlangsung. Apakah ia memberi ruang bagi dialog substantif, menjaga martabat institusi, dan menghasilkan pemimpin yang mampu membawa Unram menghadapi tantangan masa depan.

“Jika Pilrek berakhir dengan polarisasi, semua akan rugi. Jika ia melahirkan iklim baru yang sehat, semua akan diuntungkan," tuturnya.

Seruan itu menjadi penanda bahwa Pilrek Unram tak sekadar mekanisme prosedural, melainkan cermin arah budaya intelektual kampus, apakah ia akan tumbuh semakin matang, atau justru stagnan dalam siklus kontestasi dangkal.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....