Dari Kampung Pelangi Menjadi Lembur Katumbiri
- 20 Agt 2025 12:52 WIB
- Bandung
KBRN, Bandung: Destinasi wisata yang menyuguhkan keindahan masih menjadi daya tarik bagi para wisatawan untuk dikunjungi. Salah satunya di Kota Bandung ada satu destinasi wisata unik, menarik, cantik dan murah, yaitu Lembur Katumbiri.
Lembur Katumbiri berada di Jalan Siliwangi, RT 03 RW 12 Kelurahan Dago, Kecamatan Coblong, Kota Bandung. Awalnya Lembur Katumbiri dikenal dengan nama Kampung Pelangi 200, namun setelah direvitalisasi oleh Pemerintah Kota Bandung, maka berubah namanya jadi Lembur Katumbiri.
Lembur Katumbiri pada mulanya merupakan pemukiman biasa yang padat penduduknya. Masyarakat setempat menyulap kampungnya menjadi Lembur Katumbiri, kawasan wisata tematik berbasis budaya lokal yang diresmikan Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan pada Selasa 6 Mei 2025.
Menurut laman yang ditulis oleh Humas Kota Bandung, rumah-rumah di cat ulang dengan total 504 galon cat, melibatkan lebih dari 150 pekerja lapangan. Warna-warna cerah di dinding bukan sekadar estetika, melainkan simbol transformasi dan harapan baru.
Nama "Lembur Katumbiri" pun muncul dari usulan warga yang mengartikan dari kata "Katumbiri" dalam bahasa Sunda berarti pelangi. Bukan hanya tentang keindahan warnanya saja, tetapi karena maknanya yang kultural dan mendalam.
Bagi warga, pelangi adalah simbol keberagaman yang bersatu dalam harmoni sesuatu yang sangat mencerminkan semangat gotong royong mereka selama proses revitalisasi. Wali Kota Bandung Farhan mengatakan, Lembur Katumbiri adalah bukti pembangunan tak lagi sekadar soal jalan dan bangunan, tapi juga tentang seni, budaya dan kebersamaan.
Kini, Lembur Katumbiri tak hanya menyajikan visual mural yang menawan, tetapi kawasan ini telah berkembang menjadi ruang hidup yang menyatu dengan alam dan budaya. Ada konservasi ikan endemik, urban farming hingga pasar mingguan yang melibatkan pelaku UMKM lokal, dan semua ini lahir dari kolaborasi bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Bandung (DKPP).
Di balik setiap gambar, ada narasi tentang alam, sejarah lokal, hingga kritik sosial yang disampaikan dengan seni. Di tengah hiruk pikuk kota, kampung kecil ini membuktikan bahwa perubahan besar bisa dimulai dari sudut-sudut yang paling sederhana.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....