Makna Simbolis Injak Telur pada Pernikahan Adat Jawa

  • 08 Jan 2025 07:34 WIB
  •  Bandung

KBRN, Bandung: Momen Injak Telur, Wiji Dadi dan Wijikan merupakan suatu rangkaian ketika prosesi dalam upacara panggih pernikahan adat Jawa. Prosesi ini sarat dengan makna simbolis yang mendalam, menggambarkan peran dan tanggung jawab dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Wiji Dadi dilakukan calon pengantin pria menginjak telur ayam mentah hingga pecah, aksi ini memiliki makna filosofis yang kuat. Menginjak telur melambangkan tekad calon pengantin pria memikul tanggungjawab kepala rumah tangga, siap melindungi, menafkahi, dan membimbing keluarga.

Pecahnya telur juga diartikan sebagai awal kehidupan bagi kedua mempelai, dengan penuh harapan, tantangan, dan kebahagiaan yang mereka jalani. Telur yang pecah melambangkan terputusnya masa lajang, dan memasuki babak baru sebagai suami istri. Dalam beberapa interpretasi, telur juga melambangkan kesuburan dan harapan akan segera dikaruniai keturunan.

Sementara Wijikan adalah calon pengantin wanita membasuh kaki calon pengantin pria dengan air yang telah diberi bunga setaman. Prosesi ini juga memiliki sarat makna dan filosofi yang sangat dalam, dan sakral dalam pernikahan Adat Jawa.

Membasuh kaki suami merupakan simbol bakti dan pengabdian istri kepada suaminya, berjanji selalu mendukung, menghormati, dan melayani suaminya dengan sepenuh hati.

Prosesi ini menunjukkan penghormatan calon pengantin wanita kepada calon pengantin pria sebagai kepala rumah tangga. Air yang digunakan untuk membasuh kaki melambangkan penyucian diri dari segala hal negatif dan harapan akan kehidupan rumah tangga yang bersih dan harmonis.

Zenul Wafa, seorang pemandu pernikahan adat Jawa yang berpengalaman, ketika di temui Pro 4 RRI Bandung Minggu (5/1/2025) mengatakan, prosesi atau momen injak telur dan wijikan merupakan dua prosesi yang saling melengkapi.

“Injak telur menunjukkan kesiapan pria untuk bertanggung jawab, sedangkan Wijikan menunjukkan bakti dan penghormatan istri. Keduanya merupakan fondasi penting dalam membangun rumah tangga yang harmonis," ujar Zenul Wafa.

Dalam kesempatan tersebut, ia menambahkan telur yang diinjak juga bisa dimaknai sebagai benih kehidupan. Pecahnya telur melambangkan harapan akan datangnya keturunan yang akan melengkapi kebahagiaan keluarga. Air yang digunakan untuk membasuh kaki bukan hanya air biasa, tetapi air yang telah diberi kembang setaman yang memiliki aroma wangi dan melambangkan kesucian.

"Memahami makna yang terkandung di dalamnya, kita tidak hanya sekadar menjalankan tradisi, tetapi juga menghayati nilai-nilai luhur yang diwariskan oleh leluhur kita," pungkasnya.

Prosesi Wiji Dadi dan Wijikan dalam upacara panggih bukan sekadar ritual tanpa makna, tetapi merupakan simbol nilai-nilai luhur tentang tanggung jawab, bakti, penghormatan, dan harapan hidup harmonis dan bahagia dalam rumah tangga. Pemahaman yang mendalam tentang makna simbolis ini akan semakin memperkaya dan menghidupkan tradisi pernikahan adat Jawa.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru

Memuat berita terbaru.....