Bukan Hanya Etalase Modern, Al-Zaytun Punya Pesona Berbagi

  • 13 Mar 2026 09:49 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Cirebon - Gema adzan Magrib baru saja memecah keriuhan di salah satu pusat perbelanjaan terbesar di Cirebon. Di balik gemerlap etalase toko dan aroma restoran modern, Masjid Al-Zaytun yang terletak di kompleks mal tersebut menghadirkan suasana yang kontras namun menyejukkan.

Sesaat setelah ibadah shalat berjamaah usai, pemandangan lazim berganti menjadi barisan rapi pembagian nasi kotak dan takjil. Menu pembuka berupa kolak yang menggoda selera hingga paket nasi lengkap dengan lauk-pauk segar tersaji, siap menyambut siapa saja yang ingin membatalkan puasa.

Kehadiran program berbagi ini sempat memicu tanda tanya; bukankah mereka yang melangkah ke dalam mal biasanya memiliki persiapan finansial untuk jamuan berbuka yang mewah? Namun, realita di lapangan justru bercerita lain. Di balik gedung kaca ini, terdapat ekosistem pekerja dan pengunjung yang memiliki kebutuhan berbeda.

Nasi kotak yang disediakan para dermawan ini bukan sekadar hidangan gratis, melainkan jembatan kebaikan bagi mereka yang sering terlupakan di tengah hiruk-pikuk gaya hidup urban. Anto, seorang karyawan konter di mal tersebut yang berasal dari Lemahwungkuk, menjadi salah satu saksi manfaat gerakan ini.

Menjelang sif malamnya, ia tak perlu lagi bingung mencari santapan cepat di tengah kesibukan melayani pelanggan. "Sangat terbantu," ungkapnya singkat sembari menikmati hidangan. Bagi Anto dan rekan-rekan seprofesinya, keberadaan nasi kotak ini adalah bentuk perhatian nyata bagi para pejuang nafkah yang harus tetap tegak berdiri saat waktu berbuka tiba.

Cerita unik juga datang dari pengunjung seperti Siska, yang sebenarnya telah memesan tempat di restoran ternama namun terjebak daftar tunggu (waiting list) yang panjang. Takjil yang dibagikan di masjid menjadi penyelamat sementaranya untuk sekadar membatalkan puasa tepat waktu sebelum meja pesanannya siap.

Hal ini membuktikan bahwa keberkahan di Masjid Al-Zaytun bersifat inklusif; ia menyentuh pekerja sif malam yang sedang berjuang, hingga pengunjung mal yang sekadar mencari ketenangan di tengah antrean panjang restoran. Kini, saat Ramadhan mulai memasuki hari-hari terakhirnya, pemandangan indah di Masjid Al-Zaytun ini menjadi pengingat berharga tentang sisi humanis sebuah kota.

Di tengah modernitas mal yang sering dianggap individualis, semangat berbagi justru tumbuh subur di sana. Semoga kebaikan yang terjalin sepanjang bulan suci ini tidak hanya mengenyangkan perut yang lapar, tetapi juga menyempurnakan kualitas ibadah dan kepedulian sosial kita di masa mendatang.

Kata Kunci / Tags

Rekomendasi Berita