Balap Liar Ramadan, 17 Kendaraan Disita Polres Kuningan

  • 28 Feb 2026 20:18 WIB
  •  Cirebon

RRI. CO.ID, Kuningan - Sepuluh hari pertama Ramadan diwarnai meningkatnya patroli aparat kepolisian di sejumlah titik rawan di Kabupaten Kuningan. Di balik penindakan balap liar dan dugaan tawuran pelajar, tersimpan persoalan yang lebih luas: kenakalan remaja dan pengawasan sosial selama bulan suci.

Kapolres Kuningan, M Ali Akbar, menyebut patroli cipta kondisi dilakukan secara gabungan oleh Sat Lantas, Sat Reskrim, dan Sat Samapta. Sasaran operasi tak hanya balap liar, tetapi juga penggunaan knalpot brong hingga potensi tindak kriminal jalanan.

“Selama bulan Ramadan ini, kita telah mengamankan 17 unit kendaraan, rinciannya 16 kendaraan roda dua dan 1 kendaraan roda empat. Banyak di antaranya diduga akan digunakan untuk balap liar,” ujar Ali Akbar, Sabtu, 28 Februari 2026.

Namun, perhatian publik tak hanya tertuju pada kendaraan yang ditilang dan diamankan hingga proses persidangan. Sehari sebelumnya, polisi juga mengamankan tiga anak di bawah umur yang membawa dua senjata tajam dan diduga hendak tawuran.

“Kita sangat prihatin karena anak-anak ini masih ada yang duduk di bangku sekolah,” kata Kapolres.

Peristiwa ini memunculkan pertanyaan tentang efektivitas pengawasan keluarga, peran sekolah, serta ruang ekspresi remaja selama Ramadan. Fenomena balap liar dan tawuran kerap meningkat pada malam hari, terutama selepas sahur, ketika aktivitas jalanan cenderung lengang.

Ali Akbar menegaskan, pendekatan yang diambil tidak semata-mata represif. “Nanti kita akan melakukan evaluasi dari hasil pemeriksaan tersebut, untuk menentukan apakah akan dilakukan upaya pembinaan atau berlanjut pada upaya penegakan hukum,” ujarnya.

Dengan melibatkan orang tua dan pihak sekolah dalam proses pemeriksaan, kepolisian mencoba membuka ruang pembinaan bagi para pelajar. Di sisi lain, langkah tegas tetap diberlakukan untuk memberi efek jera dan menjaga ketertiban umum.

Ramadan yang semestinya menjadi momentum peningkatan ibadah dan penguatan nilai sosial, bagi aparat justru menjadi periode dengan tantangan tersendiri. Upaya menjaga kamtibmas kini tak hanya bergantung pada patroli, tetapi juga kolaborasi antara keluarga, sekolah, dan masyarakat.

Rekomendasi Berita