Robusta Kuningan Rajai Pasar Nasional

  • 04 Feb 2026 22:16 WIB
  •  Cirebon

RRI.CO.ID, Kuningan - Di kalangan pencinta kopi lokal, nama Eka Nugraha mungkin sudah tidak asing lagi. Pria yang akrab disapa Ekoy ini bukan sekadar penyeduh, ia adalah penutur cerita di balik karakter biji kopi yang tumbuh di tanah Pasundan. 

Dalam sebuah obrolan santai, Ekoy, pada Rabu, 4 Februari 2026 di Warung Kopi Jambu Mas, ia membedah bagaimana kopi telah membentuk identitas geografis, khususnya di kaki Gunung Ciremai.

Bagi Ekoy, memahami kopi berarti memahami tanah tempatnya berpijak. Ia mengungkapkan sebuah fakta menarik, hampir seluruh kecamatan di Kabupaten Kuningan adalah penghasil kopi, dengan pengecualian Kecamatan Cidahu.

"Dominasi di sini masih dipegang oleh Robusta, angkanya mencapai 80 hingga 90 persen," kata Ekoy menjelaskan. Meski Arabika sering menjadi primadona di kafe-kafe kekinian karena kompleksitas rasanya, Robusta tetap menjadi napas utama bagi masyarakat Kuningan.

Tak hanya itu, Ekoy juga menyinggung tentang Buana Ciremai, sebuah jenama indikasi geografis yang menyatukan hasil tani dari Kuningan dan Majalengka. Ini adalah bukti bahwa kopi dari lereng Ciremai memiliki kasta dan kualitas yang patut diperhitungkan di kancah nasional.

Eka Nugraha juga menyoroti keragaman jenis kopi lainnya seperti Excelsa dan Liberika. Menurutnya, Liberika kini mulai dilirik oleh para petani meski distribusinya belum semasif Robusta. Secara nilai ekonomi, urutan harga saat ini masih menempatkan Arabika di posisi teratas, disusul Liberika, baru kemudian Robusta.

Dalam hal penyajian, Ekoy membagi dunia kopi ke dalam dua kubu besar: Manual Brewing dan Espresso Based. Namun, ada satu metode yang ia garis bawahi sebagai "pemberi kejujuran" dalam rasa, yaitu metode Tubruk.

"Metode Tubruk itu klasik, tapi tetap menjadi standar dalam cupping atau uji cita rasa. Lewat tubruk, kita bisa benar-benar merasakan acidity (keasaman) dan bitter (kepahitan) sebuah kopi tanpa ada yang ditutup-tutupi," ujarnya menambahkan.

Melalui perspektifnya, kita diajak melihat bahwa kopi bukan sekadar komoditas dagang. Ia adalah hasil ketekunan petani di lereng gunung, identitas sebuah daerah, dan seni yang membutuhkan ketelitian dalam setiap seduhannya.

Di tangan orang-orang seperti Ekoy, kopi Kuningan terus diperjuangkan agar tidak hanya mengisi gelas-gelas di pagi hari, tapi juga mendapat tempat di hati para penikmat kopi dunia.

Rekomendasi Berita