Nusakambangan Berdaya, Abu Pembangkit Jadi Harapan Baru

  • 11 Sep 2025 19:18 WIB
  •  Cirebon

KBRN, Cirebon: Di balik kokohnya tembok Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusakambangan, harapan mulai tumbuh dari hal yang tak pernah disangka: abu sisa pembakaran batu bara. Fly Ash and Bottom Ash (FABA) - limbah yang selama ini dianggap tak berguna - kini menjadi fondasi bagi kehidupan baru bagi warga binaan, berkat inisiatif berkelanjutan dari PLN Indonesia Power.

Pada 9 September 2025, suasana di Lapas Nusakambangan tampak berbeda. Di tengah area pelatihan kerja, tumpukan paving block dan batako hasil olahan FABA tersusun rapi. Beberapa warga binaan tampak serius mengoperasikan mesin cetak batako, sementara lainnya mengikuti pelatihan pertanian yang digelar beriringan dengan penanaman pohon kelapa secara simbolis.

Hari itu, PLN Indonesia Power menyerahkan bantuan berupa 41.500 paving block, 8.200 batako, 846 ton FABA siap pakai, dan dua mesin pengolahan FABA. Bantuan ini menjadi bagian dari program "Nusakambangan Berdaya" - sebuah kolaborasi antara BUMN, pemerintah, dan lembaga pemasyarakatan untuk membangun keterampilan, menciptakan lapangan kerja, serta menguatkan semangat kemandirian di balik jeruji besi.

Dari Limbah Jadi Harapan

Siapa sangka, abu sisa dari pembangkit listrik bisa berubah menjadi peluang emas bagi warga binaan? Direktur Utama PT PLN (Persero), Darmawan Prasodjo, menyebut program ini sebagai bukti nyata bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan inklusi sosial.

“Lewat pemanfaatan FABA, kami tidak hanya menghadirkan energi yang andal, tetapi juga membuka jalan bagi pemberdayaan ekonomi dan sosial, khususnya bagi warga binaan Nusakambangan,” ujarnya di sela kunjungan.

FABA yang dulunya hanya ditimbun, kini disulap menjadi bahan bangunan bernilai ekonomis. Warga binaan dilatih memproduksi paving block dan batako dengan standar industri. Hasilnya? Tak main-main. Hingga saat ini, program telah mencetak 142 tenaga kerja, menghasilkan 2 juta paving block dan 1 juta batako per tahun, serta membuka potensi omzet hingga Rp5,4 miliar per tahun.

Tak hanya itu, program ini juga berkontribusi pada pengurangan emisi karbon sebanyak 748 ton CO₂e setiap tahunnya.

Rehabilitasi Sosial yang Nyata

Bagi Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan, Drs. Agus Andrianto, S.H., M.H., apa yang dilakukan PLN Indonesia Power bukan sekadar CSR.

“Bantuan ini sangat bermanfaat untuk membuka peluang usaha, meningkatkan keterampilan, sekaligus membangun kemandirian ekonomi di lingkungan Lapas Nusakambangan,” kata Agus saat meninjau langsung lokasi pelatihan.

Program ini juga menjadi cermin bagaimana ekonomi sirkular mampu menjangkau sektor yang kerap terpinggirkan. Warga binaan yang dulunya kehilangan arah kini memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan berharap.

Sinergi untuk Masa Depan Berkelanjutan

Di akhir kunjungan, Direktur Utama PLN Indonesia Power, Bernadus Sudarmanta, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan dampak berkelanjutan.

“Kami percaya bahwa rehabilitasi sosial dapat berjalan beriringan dengan pengembangan ekonomi sirkular dan perlindungan lingkungan. Program ini adalah bukti bahwa sinergi antara BUMN, pemerintah, dan masyarakat mampu melahirkan solusi yang inklusif dan berkelanjutan,” ucapnya.

Melalui Nusakambangan Berdaya, PLN Indonesia Power tak hanya memberi energi listrik bagi negeri, tapi juga menyalakan harapan baru bagi mereka yang ingin menata ulang hidup dari awal - dengan tangan yang kini tak lagi hanya menggenggam asa, tetapi juga keahlian dan semangat kemandirian.

Rekomendasi Berita