Goa Rangko: Pesona Kolam Biru Safir Tersembunyi Labuan Bajo

  • 17 Jun 2026 09:45 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Labuan Bajo – Jika Anda mengira Labuan Bajo hanya tentang pantai dan komodo, saatnya melipir ke utara. Di balik perbukitan gersang Desa Rangko, tersembunyi sebuah situs geologi menakjubkan yang menawarkan sensasi berenang di dalam perut bumi: Goa Rangko.

Destinasi ini menjadi magnet baru bagi wisatawan yang mendambakan petualangan berbeda. Bukan sekadar gua batu kapur biasa, Goa Rangko memiliki daya tarik utama berupa kolam air asin alami berwarna biru jernih yang tampak magis saat terpapar sinar matahari langsung.

Aksesibilitas: Dua Pilihan Jalur Menuju Lokasi

Secara administratif, Gua Rangko terletak di Desa Rangko, Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Untuk mencapai titik ini, wisatawan memiliki dua opsi perjalanan alternatif yang cukup menantang namun sepadan:

Kombinasi Darat dan Laut (Paling Populer): Wisatawan dapat berkendara dari pusat kota Labuan Bajo menuju Desa Wisata Rangko menggunakan sepeda motor atau mobil dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Setibanya di dermaga desa, perjalanan harus dilanjutkan dengan menyewa perahu motor kayu (ketinting) milik nelayan setempat selama 15 hingga 20 menit menuju pantai terdekat dari gua. Dari bibir pantai, petualangan diakhiri dengan berjalan kaki santai (trekking ringan) selama 5 menit.

Jalur Laut Langsung: Wisatawan dapat menyewa speedboat langsung dari Pelabuhan Labuan Bajo yang akan membelah perairan utara selama kurang lebih 40 menit hingga tiba di lokasi.

Goa Rangko

Ragam Aktivitas dan Momentum Terbaik

Aktivitas utama di dalam goa ini tentu saja berenang dan mengapung. Menariknya, karena kadar garam di dalam kolam ini cukup tinggi, tubuh penjelajah akan jauh lebih mudah mengapung secara alami dibandingkan berenang di laut lepas. Kedalaman kolam berkisar antara 3 hingga 4 meter dengan air yang sangat sejuk.

Di dalam gua belum terdapat pencahayaan buatan atau jalur tangga beton yang masif demi menjaga keaslian ekosistem stalaktit dan stalagmitnya. Wisatawan diimbau menggunakan alas kaki anti-selip dan membawa senter saku tambahan.

Bagi pencinta fotografi, momentum adalah kunci. Pengunjung disarankan datang tepat pada pukul 12.00 hingga 14.00 WITA. Pada jendela waktu tersebut, matahari berada di posisi yang presisi untuk menembus celah sempit atap gua, menciptakan fenomena Ray of Light—sorotan cahaya vertikal yang mengubah warna air kolam menjadi biru safir yang berpendar redup. (Afn)

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....