Nama Puruih yang Berasal dari Bahasa Nias
- 20 Jan 2026 16:22 WIB
- Bukittinggi
RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kawasan Puruih yang kini dikenal sebagai salah satu destinasi pantai populer di Kota Padang ternyata menyimpan sejarah panjang tentang keberadaan orang Nias. Puruih tercatat sebagai salah satu pemukiman terbesar masyarakat Nias di Padang pada masa lalu, jauh sebelum kawasan tersebut berkembang seperti sekarang.
Nama Puruih sendiri diyakini berasal dari bahasa Nias, yakni kata “furui” atau “vurui”, yang berarti “melipat” atau “menggulung”. Penyebutan ini tidak terlepas dari kondisi alam kawasan tersebut, khususnya ombak pantainya yang besar dan bergulung-gulung. Masyarakat Nias yang pertama kali bermukim di sana kerap menyaksikan ombak melipat dan menggulung kawasan tempat tinggal mereka.
Dalam bahasa keseharian, kondisi tersebut diungkapkan dengan kalimat “difurui ita”, yang berarti “dilipatnya kita”. Ungkapan inilah yang kemudian melekat sebagai penanda kawasan tersebut. Seiring waktu, pelafalan furui atau vurui berubah menjadi Puruih, menyesuaikan dengan lidah dan ejaan masyarakat setempat. Perubahan bunyi ini juga dipengaruhi oleh kebiasaan orang Nias yang kesulitan mengucapkan huruf “p”, sehingga kerap menggantinya dengan bunyi “f” atau “v”.
Hingga kini, ciri alam Puruih masih selaras dengan asal-usul namanya. Pantai Puruih dikenal memiliki ombak yang besar dan menggulung saat menghantam garis pantai, menjadikannya salah satu ikon wisata bahari di Padang sekaligus saksi bisu sejarah penamaan kawasan tersebut.
Keberadaan orang Nias di Padang tidak hanya meninggalkan jejak pada nama Puruih. Sejumlah wilayah lain di kota ini juga diyakini berasal dari bahasa Nias, seperti Hiligoo yang berarti bukit lalang—kini dikenal sebagai kawasan Pasar Raya—serta Banuaran yang dahulu merupakan perkampungan masyarakat Nias.
Secara historis, orang Nias merupakan salah satu kelompok etnik pertama yang menghuni wilayah yang kini menjadi Kota Padang. Kehadiran mereka memberikan kontribusi penting dalam membentuk identitas budaya dan sejarah kota pesisir ini.
Kisah asal-usul nama Puruih menjadi bukti bahwa Padang dibangun dari keberagaman etnik dan budaya. Nama-nama tempat yang bertahan hingga hari ini menjadi penanda kuat interaksi manusia dengan alam, sekaligus warisan sejarah yang patut terus dikenang dan dijaga. (ER)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....