Pengabdian Dosen UNP, Menjernihkan Air, Menjaga Harapan Warga

  • 05 Okt 2026 23:30 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO..ID,Bukittinggi — Banjir dan longsor tidak selalu berakhir ketika air surut dan material lumpur dibersihkan. Bagi warga Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, bencana juga meninggalkan persoalan lain yang tidak kasatmata, yaitu kualitas sumber air yang dapat menurun dan berisiko mengganggu kebutuhan air minum masyarakat.

Menurut Ketua Tim Pengabdian Masyarakat UNP kepada RRI, Senin (5/10/2026), kondisi tersebut mendorong tim pengabdian kepada masyarakat Universitas Negeri Padang (UNP) menerapkan teknologi pengolahan air berbasis reverse osmosis (RO) di Kantor Camat Tanjung Raya. Kegiatan ini diarahkan bukan hanya untuk menyediakan perangkat pengolahan air, tetapi juga membangun kemampuan masyarakat dalam mengoperasikan dan merawatnya.

Program tersebut merupakan bagian dari skema Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun 2026. Dibawah pimpinan Dr. Aulia Azhar, M.Si., dengan anggota antara lain Dr. Yunhendra Danhas, M.Si., dan Dr. Yudhi Diputra, S.T., M.T., serta melibatkan mahasiswa dan mitra masyarakat.

Tanjung Raya merupakan salah satu kawasan di sekitar Danau Maninjau yang menghadapi ancaman bencana hidrometeorologi, terutama banjir dan longsor. Hujan berintensitas tinggi dapat membawa lumpur, sedimen, bahan organik, dan berbagai kontaminan ke sumber air.

Dalam situasi seperti itu, kejernihan air secara kasatmata tidak cukup menjadi ukuran keamanan air minum. Diperlukan proses pengolahan dan pengujian untuk mengetahui apakah air telah memenuhi persyaratan kualitas.

Pengolahan Bertahap

Menurut Dr. Aulia Azhar,M.Si., sistem yang diterapkan tim UNP menggunakan beberapa tahapan pengolahan. Air terlebih dahulu melewati filtrasi awal untuk mengurangi partikel dan sedimen. Selanjutnya, air dialirkan melalui membran RO untuk menyaring zat terlarut dan sejumlah kontaminan. Tahap berikutnya adalah desinfeksi menggunakan sinar ultraviolet (UV).

Rangkaian tersebut dirancang agar pengolahan berlangsung secara bertahap, mulai dari mengurangi material berukuran lebih besar hingga menangani kontaminan yang tidak dapat disingkirkan hanya melalui penyaringan konvensional.

Penerapan sistem juga diawali dengan identifikasi kebutuhan dan koordinasi bersama mitra. Tim kemudian merancang dan menyiapkan perangkat, memasang sistem, memeriksa jaringan perpipaan, serta memastikan seluruh komponen dapat berfungsi.

Keterlibatan masyarakat dilakukan melalui diskusi kelompok terarah atau Focus Group Discussion (FGD). Forum itu menjadi ruang untuk membahas kebutuhan, fungsi perangkat, serta mekanisme pengelolaan setelah teknologi diserahkan kepada mitra.

Pendekatan tersebut penting karena keberadaan alat pengolahan air tidak dengan sendirinya menjamin keberlanjutan pemanfaatannya. Sistem membutuhkan pengoperasian yang benar, pemeliharaan rutin, dan pemantauan kualitas air.

Hasil Pengujian

Kinerja sistem tidak hanya dinilai berdasarkan perubahan fisik air. Sampel air diperiksa di UPTD Laboratorium Kesehatan Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi.

Hasil pemeriksaan mikrobiologi sebelum pengolahan menunjukkan Escherichia coli (E. coli) lebih dari 800 CFU/100 ml. Total bakteri coliform juga tercatat lebih dari 800 CFU/100 ml.

Angka tersebut menunjukkan bahwa air memerlukan pengolahan lebih lanjut sebelum digunakan sebagai air minum.

Setelah melewati sistem pengolahan, hasil pemeriksaan menunjukkan perubahan. Kandungan E. coli tercatat 0 CFU/100 ml, sedangkan total bakteri coliform juga 0 CFU/100 ml.

Pemeriksaan terhadap parameter fisika dan kimia turut dilakukan. Salah satunya menunjukkan tingkat kekeruhan air sebesar 0,35 NTU, atau berada di bawah batas maksimum yang dipersyaratkan dalam hasil pemeriksaan laboratorium.

Parameter lain, termasuk pH, zat padat terlarut, dan sejumlah unsur kimia, juga diperiksa sebagai bagian dari evaluasi kualitas air.

Bagi tim pengabdian, pemeriksaan laboratorium menjadi bagian penting dari program karena perubahan air yang terlihat lebih jernih belum cukup untuk memastikan keamanan air minum.

“Melalui penerapan teknologi tepat guna, pengujian kualitas air, dan pemberdayaan masyarakat, kami berharap kegiatan ini dapat memberikan solusi nyata terhadap kebutuhan air minum di masyarakat,” jelas Aulia Azhar.

Tidak Berhenti pada Pemasangan

Setelah perangkat terpasang dan diuji, kegiatan dilanjutkan dengan sosialisasi dan pelatihan. Masyarakat diperkenalkan pada pengoperasian sistem, pemeliharaan, penggantian komponen tertentu, serta pengenalan terhadap gangguan teknis sederhana.

Langkah tersebut menjadi bagian penting dari keberlanjutan program. Tanpa pengetahuan pengguna, perangkat pengolahan air berpotensi tidak berfungsi optimal ketika terjadi gangguan atau ketika komponen tertentu memerlukan perawatan dan penggantian.

Satu unit sistem pengolahan air kini ditempatkan di Kantor Camat Tanjung Raya. Penempatan tersebut diharapkan memudahkan pemanfaatan, pemantauan, dan pengelolaan perangkat oleh mitra.

Bagi wilayah yang rentan terhadap bencana, sistem pengolahan air juga dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan masyarakat. Ketika sumber air mengalami gangguan akibat banjir atau longsor, kemampuan mengolah air menjadi salah satu unsur penting dalam menjaga ketersediaan air yang aman.

Menjaga Keberlanjutan

Program pengabdian ini sekaligus dikaitkan dengan tujuan keenam Sustainable Development Goals (SDGs), yakni memastikan ketersediaan serta pengelolaan air bersih dan sanitasi yang berkelanjutan bagi semua.

Namun, keberlanjutan tidak hanya bergantung pada teknologi. Pengetahuan masyarakat dalam mengelola perangkat dan memantau kualitas air menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

Karena itu, edukasi diberikan mengenai kualitas air, fungsi komponen sistem, pemeliharaan filter, pemeriksaan rutin, serta penanganan gangguan sederhana. Masyarakat diharapkan tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga memiliki kemampuan dasar untuk menjaga sistem tetap berfungsi.

Di Tanjung Raya, upaya tersebut menjadi penting karena persoalan air dapat muncul kembali seiring ancaman banjir dan longsor. Sistem pengolahan air yang terpasang di Kantor Camat bukan sekadar perangkat untuk menjernihkan air, melainkan bagian dari upaya membangun ketahanan masyarakat terhadap gangguan sumber air.

Air yang mengalir dari sistem mungkin terlihat sederhana. Namun, di baliknya terdapat rangkaian pengolahan, pengujian laboratorium, pelatihan, dan pemantauan. Keseluruhan proses itu bermuara pada kebutuhan yang mendasar: memastikan masyarakat memiliki akses terhadap air yang aman, termasuk ketika bencana mengganggu lingkungan dan sumber air mereka.()

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....