Dampak Udara Tidak Sehat, PAUD-TK hingga Kelas 2 SD di Bukittinggi Belajar dari Rumah

  • 08 Sep 2026 21:42 WIB
  •  Bukittinggi

RRI.CO.ID, Bukittinggi - Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) berdampak pada aktivitas pendidikan di Kota Bukittinggi.

Siswa PAUD, TK, serta kelas 1 dan 2 SD diberi kesempatan belajar dari rumah, saat kualitas udara berada pada kategori tidak sehat, Selasa, 8 September 2026.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi, Albertiusman, menyebutkan, kebijakan tersebut diterapkan berdasarkan hasil koordinasi dengan Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi.

"Ketika kita sudah berada di kondisi udara tidak sehat, maka kita memberikan kesempatan kepada anak-anak yang rentan," katanya.

Albertiusman menjelaskan, kebijakan belajar dari rumah ditujukan kepada peserta didik usia dini dan siswa kelas rendah karena kelompok tersebut dinilai lebih rentan terhadap dampak kualitas udara yang tidak sehat.

“Meski belajar dari rumah, siswa tetap mengikuti pembelajaran sesuai kurikulum yang berlaku, dengan instrumen pembelajaran yang telah disiapkan guru,” ujarnya.

Sementara itu, siswa kelas 3 SD hingga kelas 9 SMP sambung Albertiusman , tetap mengikuti pembelajaran tatap muka dengan menerapkan langkah perlindungan selama kondisi udara tidak sehat.

Albertiusman menerangkan, siswa yang mengikuti pembelajaran tatap muka diwajibkan menggunakan masker dan lebih banyak melakukan aktivitas di dalam ruangan.

"Untuk yang belajar tatap muka, tetap memakai masker, aktivitasnya berada dalam ruangan, kemudian tetap mencuci tangan," ulasnya.

Menurut Albertiusman, selain penggunaan masker dan pembatasan aktivitas luar ruangan, siswa juga dianjurkan menjaga asupan selama kondisi kualitas udara terdampak kabut asap.

“Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Bukittinggi menganjurkan siswa mengonsumsi makanan bergizi, buah dan sayuran serta memperbanyak minum air,” tuturnya.

Albertiusman menekankan, penerapan belajar dari rumah tidak bersifat permanen karena keputusan tersebut mengikuti perkembangan kualitas udara di Kota Bukittinggi.

"Kalau kondisi udara bagus, maka masuk. Tapi ketika meningkat atau tetap dalam kondisi kurang sehat, anak-anak sudah harus belajar dari rumah," ungkapnya. (YPA/AGZ)

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....